Kereta Api, Kendaraan Ramah Lingkungan
Setelah beberapa hari saya merasa kesulitan untuk menulis, saya coba untuk menulis tentang kereta api. Sebagai seorang penggemar kereta api, sebenarnya saya agak kecewa dengan kereta api di kota saya, Kudus. Kenapa? yah, karena jalur rel kereta api yang melintasi kota saya, jurusan Semarang-Rembang, telah ditutup tahun 1985 yang lalu. Setelah mencari informasi ke sana sini, akhirnya saya dapat informasi dari mulut ke mulut bahwa jalur itu ditutup karena letak rel yang berada di pinggir jalan sehingga membahayakan keamanan pengguna jalan raya. Ada pula yang mengatakan kereta api kalah bersaing dengan bus kala itu. Sayang sekali, padahal kereta api adalah kendaraan yang paling ramah lingkungan loh!
Kok gitu? coba kita ambil perbandingan antara kendaraan pribadi, kereta api, dan pesawat terbang untuk menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya. Berdasarkan situs timeanddate, jarak Jakarta dengan Surabaya adalah 674 km. Sedangkan menurut City Distance adalah 668 km. Terima kasih buat informasinya ya mas ramadanz. Okelah, ambil jarak yang paling jauh, 674 km. Yak, kita mulai hitungannya!
Pertama, kita pakai kendaraan pribadi dulu. Menurut asumsi Kompas, kendaraan pribadi memakan 1 liter bahan bakar untuk berjalan 10 km. Dengan perhitungan sederhana, untuk menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya diperlukan 67,4 liter. Jika satu kendaraan diisi empat orang, maka satu orang akan membutuhkan konsumsi BBM 16,85 liter. Bila bahan bakar yang digunakan adalah bensin, yang massa jenisnya 737,22 kg/m³ (737,22 g/L). Maka satu orang memerlukan 12.422,157 gram bensin. Menurut tante wiki, bensin adalah campuran senyawa karbon yang jumlah karbonnya 5 sampai 12. Ambilah senyawa yang paling sederhana, pentana (C5H12). Maka jumlah mol bensin satu orang yang diperlukan itu 172,53 mol. Pembakaran yang sempurna akan menghasilkan karbon dioksida sebanyak 862,65 mol atau 20.703,6 liter dalam suhu ruang untuk satu orang saja. Duh, banyak banget!
Sekarang, kalau pakai pesawat terbang gimana? Masih menurut Kompas tadi. Pesawat terbang butuh dua setengah ton avtur per jam terbang. Waktu tempuh Jakarta-Surabaya itu 1 jam 15 menit menurut Tempo. Jadi butuh 3.125 kg avtur. Ambil contoh pesawat Boeing 737-300 yang mampu mengangkut 148 penumpang. Maka satu orang butuh 21,115 kg bahan bakar itu. Di sini dibilang avtur itu campuran senyawa karbon dengan jumlah karbon 12 sampai 15. Ambil lagi yang paling sederhana, dodekana (C12H26) maka jumlah mol yang diperlukan satu orang adalah 124,21 mol avtur. Ini akan menghasilkan 1490,52 mol karbon dioksida atau sebanyak 35.772,48 liter per orang. Walah yang ini lebih banyak lagi!
Lalu, bagaimana dengan kereta api? masih dari Kompas, lokomotif diesel jenis CC 201 atau CC 203 menghabiskan bahan bakar (solar, C12H23) 2 liter tiap kilometernya. Berarti Jakarta-Surabaya butuh 1348 liter solar. Ambil contoh KA Gumarang kelas bisnis, yang menarik 12 gerbong penumpang. Tiap gerbong bisa memuat 60 penumpang, jadi total 720 penumpang. Artinya satu orang cuma butuh 1,87 liter solar. Tante wiki tadi bilang massa jenis solar itu 850 g/L. Jadi satu orang butuh 1589,5 gram atau 9,5 mol solar. Artinya karbon dioksida yang dihasilkan 114 mol atau cuma 2736 liter tiap orang. Jauh lebih rendah dibanding kendaraan pribadi dan pesawat terbang.
Dengan naik kereta api, kita bisa membantu mengurangi polusi udara. Jadi yang ngaku-ngaku pecinta lingkungan. Sana gih naik kereta api!
Catatan:
- Senyawa-senyawa yang saya perhitungkan di atas, saya asumsikan yang paling sederhana. Jadi hitungan di atas itu sebenarnya jumlah minimum karbon dioksida yang dihasilkan.
- Kenapa menghitung karbon dioksida? karena gas ini adalah salah satu dari gas rumah kaca yang menyebabkan global warming.






si om inih…
hobi banget sih nge-link ke web2 ku,,,
dasar!!
Sensi apa nge-fans sebenarnya??
Hehehe..
Tapi aku emang lebih seneng naek kereta api kok..
duitnya aja yang rada susah..
hehehe,,
Dan, aku emang cinta lingkungan..
Bukan cuman ngaku2 ya,,
Comment by adinda — January 7, 2008 @ 3:34 pm
@nickence:
Saya kan nggak nuduh kamu cuma ngaku-ngaku…
Tuh yang kata ngaku-ngaku nggak tak link…
ngefans? Huek… enggak sudi…
Comment by ardianto — January 7, 2008 @ 4:12 pm
*summon trekbek*
yaolo… itu mah, alat transportasi jadul sayah…sekarang sih, saya lebi suka naek psawat…
*digampar orang sekampung*
Comment by chiq — January 7, 2008 @ 11:21 pm
@chiq:
Saya lebih suka pakai pintu kemana saja…
Comment by ardianto — January 8, 2008 @ 1:11 pm
kebanyakan doraemon sih kamu…
Comment by chiq — January 11, 2008 @ 8:39 pm
@chiq:
Ah, katanya doraemon itu sesat
Comment by ardianto — January 11, 2008 @ 8:48 pm
wuiiih…
Pake KA tuh cape bener. Yg kelas eksekutif muaahal kali tiketnya. Yang kelas bisnis-nya gak nyaman bener… Apalagi kalo naik KRL ato KRD (kalo di Bandung ada yang jurusannya Rancaekek - Stasion) bisa2 pas lo turun HP, dompet, jam, gelang, dsb. bisa ilang dicopet… Bahkan tak jarang adanya tindakan pelecehan terhadap kaum wanita di sana.
Nah… apakah KA itu pantas dijadikan pilihan utama?? Lihatlah realita sebelum melaksanakan suatu keinginan.
Comment by purmana — February 17, 2008 @ 10:08 pm
@purmana:
Ok, jawaban saya ada di sini
Comment by ardianto — February 19, 2008 @ 8:20 pm
ok…..ajalah…..
asal yang nmanya polusi udara kudu diberantas!!!!!
Comment by ellie — May 31, 2008 @ 1:42 pm