Ingin pemilu atau pilkada sukses? Ingin pemilu demokratis? Begini caranya, 4 hal saja yang kita ubah dalam paradigma kita sekarang ini.
- Yang meliki hak pilih harus kenal semua orang yang berada di lingkungannya. Satu orang saja tidak kenal, hilanglah hak pilih Anda karena Anda akan dinilai belum pantas memilih dan mengurangi objektivitas pemilu atau pilkada. Menurut pepatah yang nilai kebenarannya mutlak ini, "Sama orang satu
desaRW aja belum kenal, apalagi sama calon pemimpin". Benar kan? - Tenang saja, kalau Anda kehilangan hak pilih Anda, Anda justru memenuhi syarat untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin. Terutama saat para calon yang bersedia mengajukan diri tidak lolos. Anda akan mendapat berkah dari langit. Orang-orang akan menghujat mereka dengan kata-kata seperti ini, "Mau nyalonin diri aja nggak becus, bisanya cuma pamer CV dan tanda tangan dukungan doang, apa harus orang yang nggak punya hak pilih yang melakukan itu?". Dan Anda pun berhak untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin.
- Kalau kurang lebih seperempat dari rakyat sudah kehilangan hak pilihnya, biarkan saja. Toh, masih ada tiga perempat lainnya yang memenuhi syarat. Tiga perempat rakyat ini tentu saja sudah mengenal orang-orang satu RW, satu desa, satu kecamatan, satu kota, satu provinsi, satu negara. Untuk pemilihan kepala desa misalnya, paling tidak tiga perempat warga desa pasti mengenal seluruh warga desa. Tidak ada satu pun warga desa yang tidak mereka kenal. Maka merekalah yang paling berhak menentukan siapa yang memimpin. Jadi mereka ini sangat objektif dalam menentukan pilihannya saudara-saudara.
- Tidak peru kampanye, tidak perlu saudara-saudara. Toh para pemilih, yang jumlahnya kurang lebih tiga perempat dari seluruh rakyat itu, sudah mengenal semua warga. Jadi para calon pemimpin sekalian, tidak perlu repot-repot menyiapkan dana kampanye, mereka semua sudah mengenal persis siapa sang calon pemimpin. Bagaimana sifat-sifatnya, bagaimana kesehariannya, visi dan misinya pun para pemilih sudah tahu, bukankah mereka sudah kenal?
Demikianlah cara melaksanakan pemilu yang baik. Hasil pemilu yang memenuhi keempat poin tadi pasti objekif, menghasilkan pemimpin yang ideal untuk memimpin tiga perempat seluruh desa, kecamatan, kota, provinsi, atau negara. Laksanakan seluruh poin di atas tadi, maka pemilu yang aman juga tercipta. Tak akan ada lagi bentrok antar pendukung saat pilkada, tak akan ada lagi keributan saat masa-masa kampanye.
.
PS: Perhatikan kategori tulisan ini, tulisan ini bersumber dari masalah ini.
4 Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://ardianto.blogsome.com/2008/03/01/pemilu-pilkada-sukseskan/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
aku capek dengan demokrasi.. cuma jadi anjang cari kekuasaan.
Ada yang bilang rakyat itu seperti ternak, asal mereka dapat cukup makan, mereka tidak peduli siapa penggembalanya. selama ini rakyat seringkali hanya terpesona oleh kampanye sesaat.
Lebih baik pemimpin dapat dipilih oleh dewan yang ahli dan berorientasi rakyat.
Comment by Spitodator — March 1, 2008 @ 11:22 am
@Spitodator:
Hoho…
Dewan yang ahli dan berorientasi rakyat itu yang kayak gimana?
Cara dapetnya gimana?
Comment by ardianto — March 1, 2008 @ 8:33 pm
@Spitodator
menurut saya, justru fatal kalau pemimpinnya dipilih dari dewan mas..(apalagi kalo anggota dewannya seperti sekarang)
fungsi kontrol dewan jadi lemah…
bisa2 presiden + dewan jual pulau, qta cuman bisa bengong ntar.
just my .02 cent
~salam kenal~
Comment by Abdurahman — March 1, 2008 @ 10:34 pm
@Abdurahman:
Nah, itu dia…
Salam kenal juga…
Comment by ardianto yang baik hati — March 2, 2008 @ 2:11 pm