Tulisan ini menanggapi tulisan rekan saya, kang Andi Hendra yang di sini. Emang agak susah dibaca, wong tanda bacanya aja ngaco di sana. Dibilangin juga, dia bilang blog aing kumaha aing. Ya, terserahlah. Intinya saya mau menilai isi pendapatnya, jadi bukan perkara dia ngerti ejaan atau enggak, bukan perkara dia mau blognya dibaca apa enggak. Saya ndak mau melakukan suatu fallacy.
Oke, pertanyaan saya simpel saja dari pertanyaan itu. Bagaimana sih cara menentukan hadits itu sahih apa enggak? Dia jawab, "Para ulama telah menetapkan mana yang sahih dan mana yang dhaif". Nah, cara para ulama ini menetapkan bagaimana? Bukankah ilmunya seharusnya kita juga tahu? Kita juga bisa pelajari? Apa ulama itu orang sakti mandraguna yang berhasil nemuin mesin waktu ke zaman rasul sehingga menyalahi teori relativitas? Caranya bagaimana? Seobjektif apakah cara itu?
"Bukannya udah ditetapkan (ini menurut para ulama lho) bahwa hadist2 dari muslim dan bukhari itu sahih!"
Sudah pernah dibahas oleh Kopral Geddoe, di artikelnya yang berjudul Distortion and Conformity. Coba renungi baik-baik, apa hadits-hadits itu bisa dikatakan "benar"? Kalau benar, saya mau kawin sama banyak-banyak wanita, katanya yang terbaik yang paling banyak istri. Terus saya juga mau beli budak dan melakukan ** sampai puas. Toh tidak ada dosanya. Hehehe *bajingan berotak busuk*
"andaikan tidak sahih pasti para ulama sudah lebih dahulu bergerak lebih cepat daripada kita orang yang masih awam islam"
Lalu bagaimana dengan pertanyaan sebelmnya tadi? Takutkah kamu untuk berfikir? Jangan-jangan nanti berfikir dibilang sesat lagi, apa gunanya logika kita?
4 Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://ardianto.blogsome.com/2008/04/01/berpikir-kritis/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
ay yay yay..
sebetulnya sih si andi itu emang agak lugu..
daripada di blog, kenapa enggak diskusi aja lagi? lebih seru.
Comment by spitod — April 1, 2008 @ 3:38 pm
[spitod]
Nunggu dia dateng ke sini….
Hehehe
Comment by ardianto — April 1, 2008 @ 3:48 pm
Kalau masalah hadith mana yang sahih mana yang nggak suka ngebingungin, pokoknya saya anggap kalau yang baik dan tidak bertentangan dengan Al-Quran anggap aja sahih. Kalau nggak, seperti istri sebanyak2nya yang bertentangan dengan Quran yang membatasi hingga 4, anggap saja nggak sahih!
Comment by Yari NK — April 3, 2008 @ 9:55 am
[Yari NK]
Istri banyak Pak…
Di Al-Qur’an kan kalau nggak salah ayatnya bunyinya “… satu, dua, tiga, dan empat”
Berarti boleh 1+2+3+4=10
*dilempari sama FPI*
Comment by ardianto — April 4, 2008 @ 9:28 pm