Hari Sabtu kemarin, saya bareng teman saya, si Andi Hendra Paluseri jalan-jalan ke Cicalengka. Yah, setelah ujian kedua mata kuliah pengantar rangkaian elektrik yang hasilnya jauh dari ideal kayaknya, kami butuh refreshing! Daripada ke tempat yang itu-itu aja dan udah bosan liat mal dan gaya hidup ala Bandung, kami pun memutuskan buat jalan-jalan ke daerah Bandung Timur, di ujung sana. Kami naik kereta api yang judulnya "KRD Ekonomi Cicalengka-Padalarang" yang harga tiketnya 1000 rupiah itu untuk menuju ke sana. Buat naik kereta ini saja butuh perjuangan. Maklum, berebut tempat duduk. Daripada sumpek di dalam, kami berdiri saja di dekat pintu. Dan memang kami bisa melihat pemandangan sawah-sawah yang masih asri di sana. Sayang kami nggak ambil foto.
Sampai di Stasiun Cicalengka, karena nggak tahu daerah itu dan buta sama sekali, kami cuma jalan-jalan di sekitar stasiun aja. Stasiun ini kumuh kalau boleh saya bilang. Lihat yang kami temukan di sebelah selatan Stasiun ini:
Ah, jarang-jarang saya liat beginian, WC, langsung di atas sungai. Ho ho ho. Oh, bikin WC yang memenuhi standar saja masyarakat kita nggak mampu. Makanya, kita harus menolak kenaikan harga BBM! Bantulah rakyat miskin!
Di Cicalengka kami cuma berjalan-jalan mencari-cari masjid untuk sholat Ashar. Namun, ternyata susah juga nyari masjid di daerah ini. Setelah berputar-putar akhirnya kami menemukan tempat buat sholat. Setelah selesai sholat, kami kembali ke Stasiun Cicalengka untuk menunggu kereta api "KRD Patas Bandung-Cicalengka" yang akan berangkat pukul 16.35. Berbeda dengan yang kami naiki sewaktu berangkat. Kareta ini berkelas bisnis, harganya juga lumayan, Rp 5000 sekali jalan. Setelah beli tiket kami menunggu kereta buat pulang. Saya juga mengambil beberapa foto suasana Stasiun Cicalengka.

Suasana stasiun Cicalengka.
Sabar menunggu kereta.
Setelah menunggu beberapa menit, petugas stasiun mengumumkan kereta akan datang dari jalur 3 dari arah barat dan meminta penumpang berhati-hati karena pada jalur 2 akan lewat kereta Lodaya Siang. Sekitar pukul 16.15, kereta yang akan kami naiki pun datang. Kami pun langsung naik.
Wajah KRD Patas Cicalengka Bandung

Interior KRD Patas
Kereta ini rasanya kok mirip-mirip kereta Pandan Wangi yang jurusan Semarang-Solo yah? dulu saya pernah naik yang Pandan Wangi itu. Suasananya benar-benar mirip. Tapi sore itu sepi penumpang keretanya. Mungkin karena akan ada final Uber Cup kali yah? Oh, ya, saya juga sempat ambil foto dari kabin masinis, hehehe…

View dari kabin masinis
kereta ini beda dengan KRD Ekonomi yang berhenti di tiap stasiun, dia cuma berhenti di tiga stasiun saja, Bandung, Rancaekek, dan Cicalengka. Bahkan saya sempat liat kereta api Mutiara Selatan dipaksa mengalah oleh kereta ini. Cicalengka-Bandung pun ditempuh dalam waktu 35 menit. Cukup cepat dibanding naik angkot. Dan perhentian terakhir kereta ini adalah di Stasiun Bandung

KRD di Bandung
Setelah itu kami pulang dan nonton Uber Cup. Dan sayang seribu sayang, Indonesia kalah! Tapi, terima kasih buat para atlet yang sudah berjuang demi bangsa ini, demi negeri ini!
34 Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://ardianto.blogsome.com/2008/05/18/cicalengka-trip/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
Keretanya bagus ya.
Nama Cicalengka saya kenal dari buku karangannya Abdul Muis, tentang “Pertemuan”, antara gadis Sunda bernama Ratna dari Tagogapu (daerah dekat Padalarang), dengan mahasiswa Sunda keturunan bangsawan yang sedang sekolah di Stovia (Fak kedokteran UI, sekarang). Pertemuan mereka terjadi di kereta api…Entahlah cerita sastra zaman dulu mengajak kita mengerti perbedaan kultur antar suku, antar derajat, juga daerah pariwisata disekitarnya….membuat kalau suatu ketika kita melewati daerah tsb jadi ingat apa yang pernah kita baca di buku.
Comment by edratna — May 18, 2008 @ 11:28 am
[edratna]
Iya, keretanya masih cukup bagus di kelasnya…
Emm, bukunya unik juga tuh, kok bisa ketemunya di Cicalengka? daerah Padalarang itu kan di sebelah barat Bandung, kalau mau ke Stovia (UI) harusnya ke arah Barat lagi.
Kalau Cicalengka kan ke arah Surabaya… Jadi pengen baca bukunya…
Comment by ardianto — May 18, 2008 @ 11:42 am
Salam
cuma memang sangat disayangkan ya, sanitasi dan hygienitas jadi barang mahal untuk orang2 pedesaan. Salam kenal aja, very nice blog
Perjalanan yang sangat menarik nie, duh De.. model WC kayak gitu di kampung mah banyak, secara sy juga dari kampung jadi ga aneh
Comment by nenyok — May 18, 2008 @ 11:50 am
[nenyok]
Iya, menarik sih Pak…
Refreshing habis ujian..
Iya, saya kurang familiar sama WC model begitu. Di kampung saya dulu, langsung di sungai tanpa tedeng aling-aling…
Meski begitu suasana di desa nyaman Pak..
Salam kenal juga, terima kasih pujiannya..
Comment by ardianto — May 18, 2008 @ 11:59 am
Cicalengka ya??
Saya pertama kali ke sana waktu kelas 2 SMA, waktu itu ada undangan ke SMA di sana (SMA apa ya? lupa… kalo ga salah sih SMAN 1 Cicalengka)
Karena kereta telat, jadi di Cicalengka cuma kebagian acara sedikit. Habis itu kami jalan-jalan lewat kampung-kampung,, adem, seger, beda banget lah sama di kota!!
Di Bandung susah cari yang kaya’ gituan,, di Cimahi sama aja…
Comment by si uman — May 18, 2008 @ 1:07 pm
[si uman]
Iya, emang masih asri…
Keretanya emang gampang telat…
Di Cimahi ma Bandung mah boring…
Comment by ardianto — May 18, 2008 @ 1:15 pm
Wah…. saya kapok deh naik kereta ekonomi. Trauma. Waktu itu dapat duduk lantai di bawah. Eh, beberapa meter ada anak kecil kencing di dalam kereta. Amplop deh!
Comment by Yari NK — May 19, 2008 @ 5:57 am
makasih foto2nya ….
ingat model WC nya, ingat Hochsitz di sini, tempat pemburu untuk mengintai buruannya yang banyak kutemui di sini, walaupun bentuk dan bahannya berbeda
Comment by Elys Welt — May 19, 2008 @ 12:30 pm
jadi inget kemarin waktu naik kereta ekonomi jurusan depok-manggarai. meski setiap jam selalu langsir, tapi penumpang selalu saja penuh sesak. tapi ada untungnya juga kok mas ardi. secara sosial, kita bisa mengenal beragam karakter manusia di sekeliling kita dan membiasakan berbaur dengan sesama, hehehehehe ….
Comment by sawali tuhusetya — May 19, 2008 @ 2:52 pm
[Yari NK]
Nasib bapak sedang sial aja
Itu yang saya foto keretanya kelas bisnis kok…
Di dalem banyak orang berbisnis, banyak yang jualan, yang ngamen, dll…
[Elys Welt]
Sama-sama…
Hochsitz? kayak apa kk? pengen lihat…
[sawali tuhusetya]
Kalau di Jakarta sih ramainya udah nggak ketulungan, Pak…
Nah, keuntungan secara sosial itu yang pengen saya cari, senang, susah, semua tumplek di satu ruangan…
Comment by ardianto — May 19, 2008 @ 5:18 pm
hhhmmmm, kamar mandi kayak gitu multifungsi loh. jangan salah, di bawahnya biasanya ada ikan lelenya yang siap melahap poopyang lo buang.
nah, biasanya, ketika kedatangan tamu, tuan rumah menyajikan ikan lele dari kolam “serbagunanya”.
walaupun belum pernah mencoba rasanya (yang katanya rasanya mah sama, cuma sensasinya beda), saya pernah mendengar ketika saya lagi ada di desa Bawang, Kabupaten Magelang, teman saya disajikan lele dari kolam Hi-Tech itu. gimana ga Hitech, mengolah limbah murni jadi makanan siap makanan berprotein tinggi. hehehe
pernah nyoba wan?
Comment by Zulfikar Hakim — May 19, 2008 @ 8:29 pm
[Zulfikar Hakim]
Pernah Zul…
Tetangga saya ada yang miara lele di tangki septik…
Terus dijual di warung…
Enak kok…
Comment by ardianto — May 19, 2008 @ 8:44 pm
sman 1 cicalengka gx bgtu bruk jg kok.
gak pcya???????????dteng z langsung.dtgu yaaaa
Comment by ktha — July 3, 2008 @ 10:26 am
[ktha]
Iya…
Percaya…
Kapan-kapanlah main…
Comment by ardianto — July 3, 2008 @ 2:11 pm
icg jadi nget masa lalu decg…………………
kapan ya drikw bsa naik kereta lagi…….??????
Comment by c'manisZZZ — July 17, 2008 @ 8:16 am
aduuuhhh senangnya ada yang peduli mau nulis ttg cicalengka, sy lahir dan gudee di cicalengka, karena nasib terdampar di jakarta yg, waktu liburan anak2 kmrn saya pulang hampir 10 hari! duh tenaaang rasanya jiwa dan raga,macet, srtess, terburu buru ( mandi aja di cicalengka menjelang maghrib saking dinginnya, malh kadang ga mandi), waktu mo pulang segeeen rasanya. hayu atuh siapa yg mau ke cicalengka kontak saya biar nanti saya pulang dan kita mancing di kolam punya kakak saya dipinggir sawah dikaki bukit aaahhhh sejuuuk
Comment by tika — July 23, 2008 @ 3:27 pm
sudah lama gak ke cicalengka udah 4 tahunan kali ya jadi kangen. keretanya jadi bersih dan rapih ya? mudah mudahan bisa sebagus krl ac bogor - jakarta.
makasih foto-fotonya kang obat kangen.
Comment by hendra — August 3, 2008 @ 1:19 pm
hendrayani-kah ini?????
Comment by tika — August 20, 2008 @ 2:16 pm
Cicalengka adalah tanah kelahiran qu. Sudah lama sejak aq keluar SMAN Cicalengka thn 90 dl setelah tamat kuliah aq merantau ke suroboyo, palembang, jakarta, bekasi, serang, balikpapan dan sekarang aq kerja di arab… paling2 aq plg kesana setaun sekali. Bnyk kenangan manis selama masa muda dl di cicalengka. MAKASIH MAS POSTING PHOTO NYA (LUMAYAN OBAT KANGEN…)….! Perlu tau lho bhw Ibu Dewi Sartika, Bapak Juanda dan kl gak salah Bapak Umar Wirahadikusumah jg berasal/sempat tinggal disana…
Comment by Rosidin — September 14, 2008 @ 5:51 pm
INDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDD
DDDDDDAHHHHHHHHHHHHHHHH
KRD BAGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGOZZZZZZZZZZZZ
Comment by NURMAIDA — September 19, 2008 @ 11:34 am
Wah, sekampus, seangkatan pula. Saya anak anak pn 136, tinggal di cicalengka. Lain kali coba main ke daerah atasnya, ada tempat wisata curug loh.
Comment by lir — September 23, 2008 @ 1:04 pm
pengumuman buat alumni SMA Cicalengka angkatan 1989/1990, tanggal 5 Oktober reuni di Dampit (back to nature yeuuuhhh), hub Hetti di 0817616651, ditunggu nyaaaa
Comment by tika — September 25, 2008 @ 3:25 pm
wah dampit …. asik tuch naek kol buntunks…. bnyak angin nya …ngisisssssssssssssss
Comment by Rosidin — October 17, 2008 @ 2:29 am
aduh kangen uy naek Kereta, rumah saya dulu di rancaekek, sekolah di SMUN 1 Cicalengka. udah beberapa tahun ini merantau di belanda..makasi ya..jadi kangen sama tukang dagang di kereta
)
Comment by ungil — October 24, 2008 @ 10:14 pm
duh denger cicalengka? jd inget jaman baheula waktu suka maen ke curug cinulang, naek mobil kol buntung, ga tau skrg apa masih ada apa engga ya?
dulu curug cinulang favorite bgt skrg mo naek krd nya ngeri abis penuh bgt kaya krl jkt-bgr aja..
hatur nuhun kang janten rus ras mangsa katukang..
Comment by kangdor — December 13, 2008 @ 12:32 pm
bang cicalengka gk seasri jaman dulu…
eksploitasi sedang berlangsung…yang ujungnya pada perusakan alam….
udaranya nambah panas…
coba main lagi deh ke cicalengka…
Comment by pecinta cicalengka — December 16, 2008 @ 2:28 am
di cicalngka juga ada skul yg nama nya SMA BINA MUDA…..
SMA ini merupakan juara ke 2 futsal se-bandung raya……..
jadi yg terbaik di cicalengka….
Comment by sheva — February 10, 2009 @ 1:17 pm
aduh cicalengka mah emang bagus pisan,
apalagi klo ke sman1 cicalengka, kalian semua pasti betah dech…
klo kesana bisa juga naek beca dari setasiun cikuda pateuh itu lebih cepet dari pada naek krd patas,he,,,
Comment by fuJi — February 11, 2009 @ 9:48 am
SMAN 1 CICALENGKA???????
it’s the best for me……saya alumni SMA NEGERI 1 CICALENGKA angkatan 2008….sekarang saya kuliah di UIN SGD BANDUNG, mengambil jurusan mu’amalah fakultas syari’ah dan hukum…..kenangan yang indah ketika masa-masa SMA…
di sMAN 1 cicalengka saya mendapatkan ilmu yang amat sangat berharga, yang g bisa di nilai dengan apapun…yang kini saya rasakan manfaatnya ketika menginjak kuliah….saya merasa percaya diri berkat ilmu yang tak ternilai harganya itu jika melihat keadaan teman2 kuliah saya yang lain…..
trima kasih ya buat SMAN 1 CICALENGKA…
MAJU TERUS!!!!!!!!
Comment by n.dewi — February 12, 2009 @ 11:42 am
Ya tu SMA Bina muda mang bagus dlm mendidik muridny,apa lg dlm hal agama Islam tu di No 1 kan.maklum sy jg bekas alumni angkatan 2003.pokok na mah BM EDUN PISAN LAH.
Comment by topan — February 28, 2009 @ 6:07 pm
KRD patas itu lebih banyak telatnya daripada tepatnya, ditambah lagi kondekturnya yang korup (gk usah beli karcis tinggal bayar 1000 buat isi kantong kondektur beres)
Karcisnya aja naik mulai dari 400-sekrang 5000, pelayanannya wuh… gk naik-naik
Comment by Anonymous — March 17, 2009 @ 9:24 pm
aku pengen kesana……………………………………………………
Comment by satria pringgandani — March 25, 2009 @ 8:32 pm
aku pengen ke sana……………………………..
Comment by satria pringgandani — March 25, 2009 @ 8:37 pm
tanks atas tulisannya…..sedikit sy terobati rindu pada tempat dan sekolah…..27th yang lalu sy tinggal dan sekolah di cicalengka….
Comment by sony yanuar — November 19, 2009 @ 12:42 pm