<
Persepsi Tentang Mahasiswa
May 20, 2008

Di suatu kota kecil, hiduplah seorang anak remaja yang telah memasuki penghujung pendidikan tingkat menengah. Sebut saja namanya Iwan. Meski hidup di desa kecil, Iwan ini selalu up-to-date mengenai informasi. Bacaannya Kompas, Pikiran Rakyat, Galamedia, atau Media Indonesia. Acara favoritnya liputan 6, metro pagi, dan reportase sore. Nah, sebagai anak muda yang bimbang, dia harus menentukan pilihan, meneruskan pendidikan menjadi seorang mahasiswa atau bekerja membantu orang tua yang kurang mampu. Pada akhirnya dia memilih pilihan kedua saudara-saudara, kenapa? karena Iwan punya persepsi tentang mahasiswa versi dirinya yang ia dapat dari media-media yang ia baca dan acara-acara yang rajin ditontonnya. Apa yang ada di kepalanya ketika mendengar kata "mahasiswa"?

1. Tukang nyiksa orang baru
Dia banyak mendengar dari media kalau ia menjadi mahasiswa, ia akan disambut dengan Orientasi Studi. Konon katanya, ia akan diberi tugas yang melimpah ruah dan tekanan psikis dari mahasiswa senior yang merasa lebih maha kuasa daripada Tuhan. Prosedur minta izin untuk tidak hadir di acara ini pun ribetnya minta ampun. Padahal Tuhan Yang Maha Kuasa dengan mudahnya memberi kemudahan untuk melaksanakan kewajiban kalau kita berhalangan. Tengok Sholat Jama’ dan Qashar, tengok pula kita diperbolehkan tidak puasa jika sakit, semua tanpa prosedur yang ribet. "Pantaskah manusia berlagak lebih hebat dari Tuhan?" tanya Iwan dalam hati.

2. Tukang nurunin presiden
Iwan juga merasa mahasiswa ini adalah penguasa negeri ini. Presiden itu hierarki pemerintahannya di bawah mahasiswa. Kalau presiden nggak mau nurutin keinginan mahasiswa, mereka bakal teriak-teriak, "Turunkan Presiden!". Apalagi kalau argumen mereka didukung oleh segerombolan orang lain yang mengaku-ngaku bernama rakyat. Contoh realnya terjadi tahun 1998 seingat Iwan. Jadi menurut Iwan, mahasiswa itu adalah raja negeri ini. Dan Iwan pikir, "Apa bedanya mahasiswa sama yang diteriaki? Mereka sama-sama arogan, maunya menang sendiri, dan memaksakan kehendak. Kalau saya jadi mahasiswa, saya sama dosanya dengan diktator."

3. Tukang ngambruk-ngambrukin pager dan bakar-bakar ban
Layaknya sebuah organisasi yang mengatasnamakan agama yang menghalalkan mengambruk-ambrukkan pagar rumah orang. Mahasiswa menghalalkan mengambruk-ambrukkan pagar kantor orang dengan mengatasnamakan rakyat. Mereka juga tak lupa menebar gas karbon dioksida bercampur senyawa oksida lain hasil pembakaran ban. Iwan bergumam, "Hebat! Membela rakyat berarti merusak pagar orang dan membakar ban! Benar-benar contoh yang baik untuk rakyat". Wahai Rakyat Indonesia! Hancurkan pagar tetangga Anda! maka Anda telah membela rakyat!

4. Tukang bikin macet jalan
Iwan pernah naik angkot di Jakarta di satu waktu. Rute angkot melewati jalan yang dipakai buat mahasiswa bakar-bakar ban dan main akting nggak jelas. Iwan bertanya pada bapak sopir angkot, "Pak, demo kayak gini udah sering ya, Pak Sopir?". Pak Sopir dengan wajah masam penuh peluh keringat berkata, "Iya Dik, kalau gini saya bakal kehilangan banyak penumpang, soalnya mereka pada milih naik ojek dan lewat rute lain daripada kenapa-napa. Saya jadi harus nombok buat setoran saya hari ini. Mana anak saya belum bayar sekolah lagi". Mata bapak sopir tampak berkaca-kaca. Iwan trenyuh, "Jadi, inikah mahasiswa yang membela rakyat? rakyat yang mana?" bisik nurani Iwan.

5. Pengganti para tentara di medan perang
Kalau negeri ini kurang tentara buat maju ke medan perang, suruh mahasiswa maju. Iwan baca berita dari Makassar, ada Universitas yang sering melakukan latihan perang antar mahasiswanya. Latihan perang ini konon disebut tawuran. Rutin dilakukan oleh mereka, ada yang seminggu sekali, ada yang dua minggu sekali, ada pula yang sebulan sekali semua dilakukan dalam kampus. Iwan bergumam, "Saya nggak mau mati sia-sia di latihan peperangan!"

6. Tukang nyusahin orang tua
Iwan sering dengar ada berita-berita tentang mahasiswa yang didrop out. Terakhir ia baca seribu lebih mahasiswa perguruan tinggi ternama di Bandung terancam DO. Kasihan orang tua mereka yang udah kerja keras, banting tulang, dan memeras keringat demi mereka. Kenapa mereka menyia-nyiakan kesempatan emas itu? Sementara nun jauh di sana, masih banyak orang lain yang ingin menimba ilmu di pendidikan tinggi. Iwan berkomentar, "Kenapa teriak-teriak minta APBN buat pendidikan 20%? Sementara yang dididik malah menyia-nyiakan kesempatan yang didapatnya. Apa nanti kalau APBN ditambah kalian bisa nggak di-DO?".

7. Tukang nyusahin aparat
Karena tukang ngambruk-ngambrukin pager ini kadang-kadang bergerombol tidak jelas di mana, kadang-kadang aparat harus mengelarkan dana lebih buat patroli. Dari mana sumbernya? dari APBN lah yaw! Tidak lupa aparat juga menyediakan gas air mata jika tukang bakar-bakar ban ini sudah keterlaluan berulah. Iwan lagi-lagi berfikir, "Jadi mahasiswa itu penjahat yah? kok mau-maunya urusan sama aparat"

Akhirnya si Iwan memilih membantu orang tuanya bekerja saja, ia fikir itu lebih terhormat dibanding nyiksa orang, ngambruk-ngambrukin pager, bakar ban, bikin macet jalan sama susah orang, bikin susah orang tua sama nambahin kerjaan aparat.

Posted in Satire, Kritik, Sosial |


29 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://ardianto.blogsome.com/2008/05/20/persepsi-tentang-mahasiswa/trackback/

  1. Gravatar Image

    Salam
    Waduh kasihan si Iwan ini tahunya yang jelek2nya aja ya he.. satu lagi deh, masih ingatkah peritiwa bandung lautan Asmara :D so Iwan bisa nambahin versi ttg mahasiswa yaitu tukang bikin bokep sendiri haahahaha.

    Comment by nenyok — May 20, 2008 @ 8:33 am

  2. Gravatar Image

    Mas Ardiyanto, sampaikan ke Iwan, mahasiswa juga ada yang tukang copy paste Tugas Akhir dan sibuk foto copy waktu mau ujian

    Comment by Yoyo — May 20, 2008 @ 9:01 am

  3. Gravatar Image

    [nenyok]
    Nggak cuma Iwan yang nganggep gitu kok..
    Masyarakat juga banyak yg menilai gitu..
    Ho.. Tampaknya iwan melupakan satu lagi yah.. :lol:

    [yoyo]
    iya, ya..
    Untung iwan nggak jadi pembajak yang nggak ngehargain karya orang..
    *iwan, bukan ardianto lo ya :-P *
    Eh, nama saya nggak pake ‘y’ mas

    Comment by ardianto — May 20, 2008 @ 9:22 am

  4. Gravatar Image

    wakakakakak!! Iwan, iwan.. ardianto sendiri gimana? stuju ga ama iwan?
    Kalo saya sih, ngga stuju, kalo mahasiswanya saya (kalo yang lain sii,, gapapa)

    liat no. 2 jadi inget ungkapan kaya gini,
    mahasiswa takut ama dosen
    dosen takut ama rektor
    rektor takut ama menteri
    menteri takut ama presiden
    presiden takut ama mahasiswa!

    Comment by si uman — May 20, 2008 @ 1:31 pm

  5. Gravatar Image

    [si uman]
    Kalau mahasiswanya saya sih saya nggak setuju… :mrgreen:
    Tapi rakyat banyak memandang kayak si Iwan itu…
    Wah, itu lingkaran setannya keren!!

    Comment by ardianto — May 20, 2008 @ 2:48 pm

  6. Gravatar Image

    padahal nyari pekerjaan udah susah lulusan s1, apalagi kalo gak kuliah..

    Comment by cempluk — May 20, 2008 @ 3:11 pm

  7. Gravatar Image

    [cempluk]
    Ah…
    Kalo si tokoh Iwan di cerita tadi, lebih baik jualan tahu tempe daripada teriak-teriak nggak jelas ngalor ngidul sana sini…
    Makanya jangan nyari kerja, bikin lapangan kerja aja… :)

    Comment by ardianto — May 20, 2008 @ 3:15 pm

  8. Gravatar Image

    huahauhuahuha

    kayanya iya tuh… saya aja suka mikir mahasiswa ko yah sebegitunya yang masuk di tivi hihihihi

    *tapi teteubh jadi mahasiswa

    tapi seseorang yang saya knal memilih jalannya iwan…

    ah

    da hidup mah pilihan :D

    Comment by natazya — May 20, 2008 @ 4:43 pm

  9. Gravatar Image

    [natazya]
    Yah, hidup adalah pilihan…
    Mahasiswa kurang kerjaan tuh masuk tivi…

    Comment by ardianto — May 20, 2008 @ 5:11 pm

  10. Gravatar Image

    Saya jadi ingat…. mahasiswa2 yang sering atau gampang menuntun mundurnya seorang pejabat jikalau ia gagal sedikit dalam menunaikan pekerjaannya. Andaikan dia korupsi atau melakukan kesalahan fatal ya boleh saja dituntut untuk mundur, ini hanya kesalahan sedikit sudah disuruh minta mundur.

    Itu sama saja misalnya, si mahasiswa mendapat nilai ‘E’ atau gagal dalam ujian, mau nggak tuh si mahasiswa mundur sebagai mahasiswa?? Harus konsekuen kan?? :D

    Comment by Yari NK — May 21, 2008 @ 6:58 am

  11. Gravatar Image

    Wah… salah ketik dikit:

    tertulis:

    …..gampang menuntun mundurnya…..

    seharusnya:

    ……gampang menuntut mundurnya…..

    Comment by Yari NK — May 21, 2008 @ 7:00 am

  12. Gravatar Image

    [Yari NK (1)]
    Iya, harusnya bapak rektor bikin aturan gitu ya…
    Sekali dapet ‘E’ langsung DO, gyahahahaha…

    [Yari NK (2)]
    Koreksi diterima, Pak.. :)

    Comment by ardianto — May 21, 2008 @ 4:31 pm

  13. Gravatar Image

    kurang tuh… di tambahi Tukang Cukur.. Tukang Kebun

    Comment by ario saja — May 22, 2008 @ 9:55 am

  14. Gravatar Image

    bukannya Iwan=Ardianto?

    Comment by Zulfikar Hakim — May 22, 2008 @ 11:30 am

  15. Gravatar Image

    Lah, kok iwan, bukannya biasa nya nama samaran itu “bunga”..

    *salah fokus..*

    Comment by farid — May 22, 2008 @ 4:12 pm

  16. Gravatar Image

    [ario saja]
    Tukang bangunan? Tukang bakso? Tukang… :mrgreen:

    [Zulfikar Hakim]
    Diam! :lol:

    [farid]
    Ah, sekali-kali iwan nggak papa kan…

    Comment by ardianto — May 22, 2008 @ 5:49 pm

  17. Gravatar Image

    Dulu ITB juga terkenal sangar, sampai anak temanku akhirnya memilih kuliah di luar negeri (kebetulan anaknya pandai dan ortu mampu), karena saat itu mahasiswa ITB ada yang meninggal saat masa orientasi studi.

    Ketika si bungsu akhirnya masuk ITB, sang ayah setiap hari menunggu saat dia ikut masa orientasi, kebetulan sepupunya juga masuk ITB. Saat sepupunya ikutan orientasi himpunan, saat itu hujan deras, keponakanku sms, sesak nafas, saya langsung ke kampus…ehh malah sama ketua himpunannya ga boleh ijin. Tentu saja saya marah, langsung nelepon Ketua jurusan dan juga dokter yang suaminya dosen di ITB…mereka mengatakan..”Mbak keponakannya ambil aja, nanti kalau ada apa-apa kan risiko kita sendiri yang tanggung..” Keponakanku malam-malam saya bawa ke Boromeus, dan akhirnya minta surat ke dokter ITB ke rumahnya, baru saya datangi lagi ketua himpunannya…saya minta tanda terima dan catatannya bahwa keponakanku boleh dibawa pulang (keponakanku cewek). Syukurlah mahasiswa tadi akhirnya memahami, tapi saya mesti menceramahi dulu, karena kalau terjadi apa-apa dan berisiko saya tak segan-segan menuntut mereka, dan apa merekea tak sayang kalau akhirnya harus keluar, untuk suatu kesalahan yang bisa dihindari.

    Sebetulnya, yang perlu disadari, adalah para mahasiswa teknik sering mengabaikan masalah kesehatan ini, padahal nyawa taruhannya. Coba kalau masa orientasi mahasiswa kedokteran, kok ga pernah terjadi ada mahasiswa yang meninggal. Kasus yang ada adalah ITS (zaman saya kuliah dulu, anaknya menjadi cacat), dan ITB (mahasiswa Fisika meninggal).

    Jadi kalau Iwan kawatir, saya kira wajar…para mahasiswalah yang harus membuktikan bahwa mereka dapat berperilaku baik.

    (Maaf nih jadi kepanjangan)

    Comment by edratna — May 22, 2008 @ 7:20 pm

  18. Gravatar Image

    Mas, point nomor 5 nya tolong diperbaikin mas..
    Gak separah itu kok..

    Salam dari Makassar..

    Comment by Mr.LooG — May 22, 2008 @ 7:32 pm

  19. Gravatar Image

    [edratna]
    Iya, mbak, itu masa lalu ITB. Tapi sekarang acara Orientasi Studi gontok-gontokan sama rektorat.
    Rektorat melarang, tapi mahasiswa tetep pengen mengadakan. Akhirnya mereka mengadakan acara OS, tapi sembunyi-sembunyi. Di awal tahun ajaran saya masuk, saya juga menandatangani surat pernyataan tidak mengikuti kegiatan sejenis Orienstasi Studi.
    Kasus Mahasiswa Fisika itu, konon katanya karena yang bersangkutan tidak menuliskan penyakit (Jantung) di name-tagnya. Itu alasan yang saya dengar. Tapi tetep aja, alasan itu nggak bener kalau digunakan untuk lari dari tanggung jawab dan menyalahkan si korban.
    I hope for a better future… :)

    [Mr.LooG]
    Itu memang dibuat hiperbolik mas…
    Jadi ya, tolong dimaklumi :)

    Comment by ardianto — May 23, 2008 @ 7:52 am

  20. Gravatar Image

    tapi nggak semua mahasiswa begitu khan ?

    Comment by Elys Welt — May 23, 2008 @ 3:16 pm

  21. Gravatar Image

    pilihan sulit memang.. tapi saya gak nyesel jadi mahasiswa, selama masih berada di jalur yang benar :)

    tapi ya.. publikasi soal kejelekan memang santer sekali, bagaimana tentang suksesnya para mahasiswa? Atau memang perbandingannya terlalu sedikit ya? dunno why.. :?

    Comment by takochan — May 23, 2008 @ 3:23 pm

  22. Gravatar Image

    MAHASISWA, MAHASISWA

    maklumlah, anak muda, cuma pengen eksis doank dan tidak dewasa……… (sok dewasa ga sih gw…)

    Comment by Zulfikar Hakim — May 23, 2008 @ 8:33 pm

  23. Gravatar Image

    [Elys Wet]
    Iya, tidak semua…
    Tapi saya merasa doktrin-doktrin yang menuntut mahasiswa bertingkah seperti itu selalu ada…
    Atas nama “rakyat” katanya…

    [takochan]
    Media massa memang banyak menyorot negatifnya…
    Susah memang hidup di Indonesia :lol:
    Tapi saya nggak nyesel kok jadi mahasiswa :)

    [Zulfikar Hakim]
    Lo sendiri gimana, kus?

    Comment by ardianto — May 24, 2008 @ 1:29 pm

  24. Gravatar Image

    eehhh, gw berpikiran jauh ke depan yah. (sampai jauh ke depannya UTS Fisika gw BBBBBBBEEEEEEEEEEEEE)

    Comment by Zulfikar Hakim — May 26, 2008 @ 8:27 pm

  25. Gravatar Image

    [Zulfikar Hakim]
    Ya, ya…
    Percaya… UTS gw juga B

    Comment by ardianto — May 29, 2008 @ 9:24 am

  26. Gravatar Image

    PLO menyiksa orang baru, gak? he2

    Comment by restya — June 11, 2008 @ 2:29 pm

  27. Gravatar Image

    [restya]
    Nggak tahu… (u_u)
    Soalnya kan bukan ‘orang baru’

    Comment by ardianto — June 11, 2008 @ 2:32 pm

  28. Gravatar Image

    yah namanya persepsi, maka kita2 harus melakukan perubahan itu.
    Memang susah untuk memperbaiki persepsi tapi bukan tidak mungkin untuk merubahnya.
    Saya berharap malah tulisan2 kita ini sedikit tidaknya merubah pandangan itu.
    terima kasih sudah ngoment di blog saya.

    Comment by aRuL — June 21, 2008 @ 12:18 pm

  29. Gravatar Image

    [aRuL]
    Saya malah lebih berharap kalau tingkah laku mahasiswa sendiri yang mengubah persepsinya… :)

    Comment by ardianto — June 22, 2008 @ 8:27 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.