Kemarin, sewaktu saya bersama Andi Hendra Paluseri dan Zulfikar untuk menyelesaikan tugas Tata Tulis Karya Ilmiah yang deadline-nya hari ini (yah, ketahuan saya pemburu deadline
). Ketika menjilid tugas itu di fotokopian belakang kampus ITB, saya melihat kertas 5 cm x 6 cm di meja tempat fotokopian itu. Isinya adalah buku teks yang difotokopi diperkecil. Ini dia gambarnya
Diambil dari jarak lebih dekat
Berhubung sekarang ini sedang dilaksanakan ujian akhir semester, jelas praduga saya mengarah ke satu hal: C-O-N-T-E-K-A-N. Kenapa ke arah sana? (1) Kalau tujuannya agar mudah dibaca dan mudah dibawa ke mana-mana, 5 cm x 6 cm itu terlalu kecil untuk dilihat. (2) 5 cm x 6 cm itu ukuran yang sangat pas untuk dimasukkan ke saku kemeja (setidaknya saku kemeja saya). (3) Karena tidak cuma satu, dugaan saya sih kawan-kawan dia juga titip ke dia.
Uh, sedih saya lihat masih ada mahasiswa yang mencontek. Padahal mereka sendiri teriak-teriak di sana-sini anti korupsi, dan menurut saya nyontek, di samping titip absen, adalah benih-benih korupsi. Apa mahasiswa diajari untuk munafik? Jujur, saya lebih suka dapat jelek daripada nyontek. Tidak peduli nanti transkrip saya rantai karbon (C-C-C-C), suara tembakan (D-D-D-D), atau suara orang buang air besar (E-E-E-E). Kenapa? ya, karena ujian itu adalah mengukur seberapa kita menguasai mata kuliah tersebut. Kalau tidak menguasai, akui saja, nggak lulus ya tinggal mengulang semester depan. Apa susahnya sih? Dapat 35 pun tak apa, berikanlah hadiah buat dirimu sendiri berdasarkan hasil belajar kita.
Dapat 35 pun tak apa, ini hasil usaha sendiri
29 Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://ardianto.blogsome.com/2008/05/23/ujian-contekan-dan-kebusukan/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
Waktu aku sekolah dulu contekanku lebih kecil lagi Mas…Saking kecilnya malah ilang..he he…
Comment by FAD — May 23, 2008 @ 9:54 am
Eh Sory asal nyelonong salam kenal ya
Comment by FAD — May 23, 2008 @ 9:56 am
Ha..ha.. itulah pinternya mahasiswa indo bisa bikin Microchip khusus saat mau exam
Comment by nenyok — May 23, 2008 @ 11:49 am
jadi inget masa lalu..
Comment by atmo4th — May 23, 2008 @ 12:53 pm
sayang nggak semua mahasiswa berpikiran seperti kamu
Comment by Elys Welt — May 23, 2008 @ 3:15 pm
Dapat nilai jelek aja koq dipamer-pamerkan
Comment by Satrio Ardi Nugroho — May 23, 2008 @ 6:52 pm
Halah, Wan,
Nilaimu metu mneh…
Eh Wan, Link Priyadi ning side bar blogmu salah
malah http://piyadi.net/
Comment by hendy — May 23, 2008 @ 7:25 pm
hohoho, sori, gw anak jujur yak……
[dusta mode = on]
Comment by Zulfikar Hakim — May 23, 2008 @ 8:28 pm
Yak, kita sama-sama pengejar deadline,,
Eh, bahasamu ga’ baku,, kan yang bener kata dasarnya “sontek”
jadi “menyontek” (apa sih?)
Ayo,, kita kampanye anti penyontekan!!
Comment by si uman — May 24, 2008 @ 6:32 am
Dulu…. sebelum telepon PDA marak, atau masih zaman2nya electronic organiser yang nggak ada teleponnya, kayaknya masih bisa masuk ruang kelas. Organiser tersebut (yang dialasanin sebagai kalkulator) bisa juga diisi contekan atau kepekan (tapi kalau buat nulis rumus agak rese). Sedangkan kalau untuk rumus2 lebih nyaman pakai yang programmable calculator. Sekarang entah apakah programmable calculator dan organiser2 jadul masih boleh lolos ke dalam kelas….??
Comment by Yari NK — May 24, 2008 @ 9:11 am
Entah kapan bisa bersih dari contekan seperti ini, padahal yang rugi mahasiswa sendiri, pada saat akan digunakan ilmunya tak mendalam.
Sebenarnya bisa disiasati oleh dosen, untuk memberikan assignment yang berbeda-beda pada tiap mahasiwa, risikonya memang capek sekali. Kerja kelompok, juga membuat yang bekerja hanya orang tertentu saja….dan sayangnya hal ini terjadi di perguruan tinggi yang cukup beken.
Jadi, sebetulnya perbaikan dimulai dari kaum muda, untuk hidup bersih, dan kalau teriak sesuai kondisi nyatanya…jangan-jangan yang teriak itu untuk menyembunyikan ketidak mampuannya…semoga tebakanku salah.
Comment by edratna — May 24, 2008 @ 9:44 am
[FAD (1)]
Lebih kecil lagi? 1 cm x1 cm maksudnya?
Ya ndak bakalan kebaca to, mas, mas…
*Pantesan aja ilang*
[FAD (2)]
Ah, asal nyelonong juga nggak apa-apa, bukan jalannya simbah saya kok…
[nenyok]
Tapi kalau disuruh bikin microchip betulan susah yah…
Maklum, Endonesha…
[atmo4th]
Masa lalu? Sekarang enggak yah…
[Elys Welt]
Iya, sayang sekali ya mbak…
[Satrio Ardi Nugroho]
Cerewet, diamlah kow …
[hendy]
La, nyapo nek metu meneh?
Ya, engko tak benakne, matur nuwun
[Zulfikar Hakim]
Uhuk… Uhuk..
Hik… Huk…
Hoeeeeeekkk…
[si uman]
*Cek KBBI*
Uh, iya, yang bener sontek…
Tapi masa sontekan sih…
–> Sontekan bola Thierry Henry masuk gawang karena posisi kiper yang terlalu maju…
*Aneh*
Ya, ya, deadliner, saya tahu kebiasaan anak ITB…
[Yari NK]
Iya, soalnya kalkulator programmable sama kalkulator biasa susah mbedainnya…
Kalkulator saya programmable kok, cuma nggak pernah saya pakai nyontek…
[edratnta]
Kapan? sampai kita sadar kalau nyontek itu setara dengan korupsi, maling, dan rampok…
Wah, kalau assignment beda-beda bakal susah sekali, Bu, satu kelas saja isinya 90-an orang mahasiswa…
Nilai nanti nggak keluar-keluar…
Iya, jangan teriak-teriak sebelum bercermin pada diri sendiri…
Comment by ardianto — May 24, 2008 @ 1:24 pm
hauhauhauhauhua
tau ga saya yah punya temen yang tiap ujian bawa kertas potokopian kecil kecil itu!!!
rada gimana gitu ngeliatnya
disatu sisi kagum…
ni orang berani bener… ni orang jago bener… ni orang bener bener…
ah tapi da hasil ujiannya sama sama ajah tuuuuh
)
Comment by natazya — May 25, 2008 @ 7:05 am
[natazya]
Iya, orang yang mengagumkan itu selalu ada…
Biasanya orang kayak gitu bawa contekan, tapi nggak tahu cara makai materi yang di contekan itu buat diterapkan ke soal…
Comment by ardianto — May 25, 2008 @ 9:34 am
yaa,,setujuu! tapi kambing hitamnya siapa ya kalo sudah “membudaya” bgini? hufft..
Comment by tiul — May 28, 2008 @ 9:48 pm
[tiul]
Ndak ada kambing hitamlah…
Salah sendiri…
Comment by ardianto — May 29, 2008 @ 9:25 am
Tapi kepekan iku kreatif wan…
butuh kecerdasan emosional….
Comment by hendy — May 29, 2008 @ 5:08 pm
Weleh… Mas Hendy ki kok ono-ono wae. Mosok ngepek termasuk kecerdasan emosional… Wah statement ini perlu ditanyain sama psikolog, bener gak ya???…..
Comment by faiq — May 30, 2008 @ 6:31 am
[hendy]
Ah, kata siapa?
[faiq]
Iya, butuh pembuktian ilmiah…
Comment by ardianto — May 30, 2008 @ 7:58 pm
hmmm…
contekan?
sebenarnya ga apa2 dibuat
asal tidak digunakan ketika ujian
Comment by Wahyu Reza Prahara — June 5, 2008 @ 2:59 am
[Wahyu Reza Prahara]
Sia-sia dong bikin contekan…
Comment by ardianto — June 8, 2008 @ 11:04 am
wuaa,,, jadi inget matakuliah Fisika Dasar-ku,, yang diulang 2x juga tetep aja dapet C..! hiks… mending ngambil Statistika deh..!!
Comment by KIP! — June 10, 2008 @ 11:45 pm
gwahahaha. gw banget tuh. nilai fisika selalu pasti dan akan senantiasa ancur. fyuh..
Comment by nanangsunokie — June 11, 2008 @ 1:24 pm
[KIP!]
Hohoho…
Sayangnya saya dapet B (u_u)
Statistika nanti di semester berikutnya…
Probstat, I’m coming!
[nanangsunokie]
Hoh, iya…
Say dua kali dapet B Fisika I sama Fisika II…
Nasib..
Comment by ardianto — June 11, 2008 @ 2:27 pm
Wah ngaco juga.
Kertas contekan kok dipamerin di fotokopian.
Dosen lewat berabe tuh…
Comment by Joni — June 16, 2008 @ 2:22 pm
[Joni]
Emang dosennya tau itu contekan?
Comment by ardianto — June 19, 2008 @ 3:36 pm
Aku ingat…
Waktu kelas enam SD dulu saat ujian ditunggu oleh guru dari sekolah lain…
Guru-guru kami nunggu di sekolah lain itu…
(Mungkin ada kong kalikong “mudahkan anak saya…”) Guru yang nunggu di kelasku membuat jawabannya dan dibuka persis di mejanya kemudian dia keluar kelas. Alhasil, anak yang duduk di depan meja guru bisa melihat jawaban dan membagikannya ke seluruh kelas.
Begitu guru masuk lagi, aku mengacungkan tangan, “Pak, tolong kertas itu ditutup.”
Saat itu juga kulihat berpasang-pasang mata menghujamku.
Selesai ujian, aku dimusuhi teman-teman sekelas padahal aku sebagai ketuanya waktu itu….
Karena itu ujian kelulusan SD, maka mereka tidak menyapaku sampai aku kami lulus…
Setelah aku masuk SMP, barulah mereka mulai baik lagi…
Faktanya sekarang: Akulah satu-satunya orang dari seluruh teman kelasku tadi yang bisa kuliah! Padahal kalau dilihat, banyak yang lebih mampu secara finansial dari aku….
Buat kamu: Salut, ga banyak yang seperti itu sekarang…
Percaya saja, mungkin awalnya pahit mempertahankan prinsip, tapi yakinlah bahwa ada keadilan di dunia ini…
(Sebenarnya masih banyak cerita seputar ini, tapi nanti jadi buku kalau diceritakan semua…)
Good luck…
Comment by alif — July 22, 2008 @ 8:57 am
Salam kenal pren…
emailku aleev07@yahoo.co.id
Comment by alif — July 22, 2008 @ 8:59 am
jujur gue ga nyonteh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1
Comment by widi yanto — April 8, 2009 @ 2:02 pm