Bermula dari iseng-iseng baca tulisan Javanese Script di Wikipedia berbahasa linggis Inggris. Saya tertarik dengan pranala luarnya. Tertulis di sana, Hanacaraka Font & Resources (in Indonesian). Langsung saja saya pergi ke alamat di tulisan yang bisa diklik itu. Setelah lihat-lihat, saya mengunduh font hanacaraka yang katanya freeware itu, tapi syarat dan ketentuannya macem-macem layaknya operator seluler yang baru promosi tarif. Ya sudahlah, berhubung saya baik hati saya turuti syarat dan ketentuannya.
Setelah download, upacara masuk panel kendali dan menginstalasi font pun dilaksanakan. Beres setelah beberapa detik. Langsung menuju ke pengolah dokumen milik kapitalis bernama Mi Kocok Kata. Di perangkat lunak ini, saya mencoba menuliskan nama saya. Huruf ‘A’, lancar. Berikutnya huruf ‘r’ mati, berarti harus nyari sandangan[1] bermerek layar[2]. Sial, gimana caranya? Dicoba mengetik r. Tiba-tiba di layar kecoa[3] muncul huruf ra. Lha terus gimana nulis layar? Oke, skip dulu. Mau nulis ‘di’ berarti harus nulis dengan huruf ‘da’ dengan wulu[4] di atasnya. Saya memencet huruf d di papan kunci saya. Muncullah huruf ‘dha’ di monitor kecoa. Loh? saya pengen ngetik ‘dha’ tapi ‘da’![5]. Gimana caranya? Lalu bagaimana memberi wulu-nya?
Bingung, saya kembali ke web tukang nyediain hurufnya. Ternyata ada tutorialnya! Kemudian jampi-jampi mengunduh sang tutorial untuk mempersakti kekuatan mengetik aksara jawa ini dilaksanakan. Setelah beberapa saat, sang rubah api[6] melaksanakan tugas dengan baik. Tutorial berformat pdf yang dibuntel dengan karung kompresi bernama zip itu pindah ke komputer saya. Dengan kitab ini, saya akan mencoba mengetik lagi. Akhirnya saya berhasil mengetik nama saya.
Meskipun sebenarnya kaidah baca tulisan di atas lain dengan kaidah baca yang sebenarnya. Setidaknya kalau tulisan di atas dilatinkan, jadinya ‘Ardianto Satriawan’. Apa bedanya? ada beberapa sih, pertama cara baca ‘a’. Nama saya dilafalkan dengan a miring dalam bahasa Jawa, maksudnya bacanya seperti huruf ‘a’ dalam bahasa Indonesia. Namun, pada aksara Jawa ‘a’ dilafalkan dengan a jejeg, yakni seperti membaca huruf ‘o’ pada kata ompong. Sayangnya, tidak ada perbedaan penulisan a miring dan a jejeg dalam aksara jawa. Tak seperti huruf ‘e’ yang bisa dibedakan dengan pepet[7] dan taling[8]. Ada lagi, yaitu pada suku kata ‘to’. Nama saya dibaca a miring seperti pada kata tolong, tapi pada aksara Jawa di atas, dibaca seperti pada kata tomat. Satu lagi pada suku kata ‘di’, pada nama saya, seharusnya dilafalkan ‘dhi’.
Ah, terakhir kali saya bermain aksara Jawa adalah kelas 3 SMP. Waktu itu kurikulum bahasa daerah cuma sampai SMP sih. Saya acungkan 2 jempol buat mas Teguh Budi Sayoga yang mengembangkan ini. Sebenarnya ada juga sih software yang menarik, yakni Pallawa 1.0 untuk mengubah tulisan latin menjadi aksara Jawa. Sayang harganya hampir 95.000 rupiah dan saya sedang mengembangkan mentalitas anti pembajakan. Jadi, ya, nunggu duit dulu deh. Mau coba juga? Silakan..
Catatan kaki:
[1] Sandangan artinya tanda baca.
[2] Layar adalah tanda baca untuk membuat huruf ‘r’ mati di belakang. Misal huruf ‘ba’ diberi layar, akan terbaca ‘bar’. Bentuknya adalah garis miring yang ditulis di atas huruf.
[3] Kecoa sebutan untuk laptop saya, diberikan oleh Zulfikar Hakim, sang kecoa-phobia.
[4] Wulu untuk mengubah suku kata menjadi berakhiran i. Berbentuk bulatan kecil di atas huruf. Bila huruf ‘na’ diberi wulu, akan terbaca ‘ni’.
[5] Berbeda dengan bahasa Indonesia, huruf ‘d’ dan ‘t’ di Jawa dibedakan sesuai cara bacanya. ‘d’ dan ‘t’ dibaca dengan lidah sedikit digigit di gigi. Sedangkan ‘dh’ dan ‘th’ dibaca dengan lidah diletakkan di bagian atas mulut seperti orang Bali membaca ‘t’.
[6] Sebutan saya untuk Mozilla Firefox.
[7] Pepet, tanda baca untuk mengubah suku kata menjadi ‘e’ seperti dalam kata ‘emas’. Mirip dengan wulu, hanya bulatannya lebih lonjong ke samping dan melebar.
[8] Taling, tanda baca untuk mengubah suku kata menjadi ‘e’ seperti dalam kata ‘tempe’. Diletakkan di depan huruf. Bila diikuti tarung di belakang mengubah suku kata menjadi ‘o’.
26 Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://ardianto.blogsome.com/2008/07/30/aksara-jawa/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
saya di jawa setelah kuliah… jadi ngak pernah dapat hanacaraka
Comment by aRuL — July 30, 2008 @ 11:20 am
[aRuL]
Saya malah di ‘luar’ Jawa setelah kuliah…
Comment by ardianto — July 30, 2008 @ 11:23 am
Masih bisa baca huruf (aksara) Jawa? hebat euy….
Comment by edratna — July 30, 2008 @ 11:23 am
[edratna]
Dikit-dikit bu…
Yah, kalo orang Jawa nggak bisa baca, siapa dong yang baca…
Comment by ardianto — July 30, 2008 @ 11:32 am
saya sekarang udah gak hafal aksara jawa padahal dulu saya bisa bgt sampai2 nilai bahasa daerah paling bgus
Comment by dhany — July 30, 2008 @ 9:21 pm
Meskipun saya orang Jawa tapi tetep saja nggak bisa aksara Jawa. Saya malah lebih bisa baca aksara steno daripada aksara Jawa. Huehehehe…..
Comment by Yari NK — July 31, 2008 @ 11:18 am
bagus yah tulisannya.. sayang kalo tidak dilestarikan
Comment by kishandono — July 31, 2008 @ 12:37 pm
hebats!.. masih nyambung belajar Hanacaraka. Saya sendiri sdh lupa ma wulu, layar, sandangan de el el..
semoga tetap lestari selamanya!!
Comment by gunawanwe — July 31, 2008 @ 4:12 pm
Ada juga, google search engine boso jowo
Comment by laporan — July 31, 2008 @ 10:20 pm
weleh, dadi kelingan jaman SD
Comment by Elys Welt — August 1, 2008 @ 3:11 pm
[dhany]
Oh, saya dulu paling jelek bahasa daerahnya. Tapi sekarang entah kenapa jadi berminat lagi…
[Yari NK]
Yang lebih parah, banyak orang Indonesia malah bisa baca huruf kanji, hiragana, dan katakana. Japanese Wannabe?
[kishandono]
Kalau font-nya emang bagus. Coba ditulis tangan, heuh, rasanya kayak liat cacing dideret
[gunawanwe]
Saya cuma inget dikit-dikit. Iya, semoga tetap lestari, Amin…
[laporan]
Tapi sayangnya nggak pake huruf Jawa kayak google.co.jp kan pakai kanji…
[Elys Welt]
Inggih bu, Indahnya masa itu…
Comment by ardianto — August 1, 2008 @ 8:37 pm
Wauw, tulisan Jawa pake integral lipat dua!
Saya aja malah ndak bisa baca itu hahahaha..
BTW kalo pake superscript yang [1], [2], syalala itu, pake anchor dan link donk,, capek nge-scrollnya…
Comment by Ryan — August 1, 2008 @ 9:19 pm
[Ryan]
Itu bukan integral lipat dua…
Itu namanya adeg-adeg, gunanya buat mengawali kalimat…
Males pake anchor link, capek bikinnya…
Comment by ardianto — August 1, 2008 @ 10:54 pm
Lama ga ke sini…
Kq sini jadi kandang ayam kyk gini….
Kabur ah..
*nyolong telur*
Comment by chiell — August 2, 2008 @ 12:46 pm
[chiell]
Maling, maling..!!
Comment by ardianto — August 2, 2008 @ 7:43 pm
Hahahaha…
Kandang Ayam !!!
Comment by hendy — August 4, 2008 @ 4:13 pm
[hendy]
Mana kandang ayamnya? mana? mana?
Comment by Empunya blog — August 5, 2008 @ 12:08 am
Lha sayah ajah malah udah lupa, jee….
Comment by mbelGedez™ — August 5, 2008 @ 7:51 am
[mbelgedez]
Saya juga udah lupa kok…
Itu aja nulisnya lihat tutorial…
Comment by Empunya blog — August 5, 2008 @ 9:58 am
di mana dapat download font hanacaraka yang gratis dan ngak ribet.Pusing nih ……….
Comment by gio — August 6, 2008 @ 6:59 pm
[gio]
Ah, ndak mau baca nih… Maunya disuapin,
Ada tuh di http://hanacaraka.fateback.com/
Comment by Empunya blog — August 7, 2008 @ 8:58 pm
mau dong, nama saya di aksara jawakan
raja ali haji
saya tunggu ya
Comment by aji — August 13, 2008 @ 8:01 am
wah, bagus nih artikelnya, saya mau meng-unduh juga ah
Comment by zaenal — August 13, 2008 @ 8:06 am
[aji]
Sebaiknya mas main ke http://hanacaraka.fateback.com
Di sana lengkap, dari font-nya sampai tutorial cara menulisnya serta cara membaca ada semua…
Silakan dicoba..
[zaenal]
Silakan…
Comment by Empunya blog — August 13, 2008 @ 10:42 am
ndérék ngréview …
http://empune.multiply.com/reviews/item/18
Comment by empune — January 6, 2009 @ 10:51 am
Gmn caranya nulis aksara jawa di blog.aku kepengen nulis nama aku pakai aksara jawa di blog makasih.
Comment by lia — February 5, 2009 @ 10:55 pm