<
Cara Menjadi Komentator yang Baik
August 7, 2008

 

Ide untuk menulis tentang netiket akhirnya tertumpah di sini. Saya menyempatkan diri untuk melongok kembali artikel-artikel yang kontroversial di blog ini, yaitu berkaitan dengan agama baru dan sesuatu yang biasa dicari bocorannya. Ternyata para komentator sudah bisa menunjukkan cara-cara yang sangat amat baik dan elegan dalam komentarnya. Arrgh No! Mungkin orang Indonesia tidak perlu dididik lagi untuk berbicara dengan sangat sopan di blog orang lain.

Mungkin hal yang patut dipuji dari oknum komentator-komentator artikel di atas adalah, mereka hafal nama-nama semua spesies penghuni tempat wisata sebelah kampus Institut Teknologi Bandung. Dari mulai jerapah, gajah, cicak, jangkrik, sampai semut. Herannya, yang paling ramai disebut adalah hewan berkaki empat yang suka menjulurkan lidah dan rawan terkena rabies paling sering disebut. Terlalu fanatik, saya rasa.

Mereka ini juga ahli biologi. Sering sekali mereka menyebut benda yang sering dikeluarkan oleh kloaka unggas atau anus mamalia. Setahu saya sih namanya feces, tapi mereka lebih sudi menyebut sinonimnya. Selain itu mereka juga sering menyebut-nyebut sesuatu yang berada di balik celana berikut aktivitasnya. Saya yakin dengan seringnya mereka menyebut istilah itu, pasti mereka ahli di bidang itu. Sebenarnya saya tidak begitu suka mengakuinya tapi ternyata orang Indonesia ahli biologi dalam bidang ekskresi, defekasi, dan reproduksi.

Orang-orang itu ternyata juga sangat pandai. Saking pandainya, mereka bisa mengata-ngatai orang lain dengan mudahnya. Mungkin taraf mereka sudah setingkat profesor sehingga mudah saja untuk menggoblok-goblokan orang. Seolah-olah merekalah yang paling berhak menghujat orang lain. Saking pandainya, mereka menuliskan nama yang tidak bisa diklik atau mengaku-ngaku sebagai pemilik Google atau Yahoo. Apa Larry Page dan Sergey Brin sudah jual google ya? Atau saya goblok dan memang ketinggalan berita? Padahal kan saya ingin memberi komentar kepada orang yang paling pintar sedunia.

Mereka ini juga cerdas. Bisa menebak profesi penulis blog. Ada seseorang yang menebak profesi saya adalah pemain kuda lumping, sehingga menyuruh saya memakan genteng. Sayangnya, saya lebih suka beling botol bekas daripada genteng. Banyak juga yang menebak saya adalah pak pos elektronik yang bisa mengantarkan e-mail ke inbox mereka berisi hal-hal yang mereka inginkan. Ilmu ini cukup sakti saya pikir. Ada yang bisa mengajari saya ilmu ini tanpa harus belajar kitab bertuliskan huruf Arab atau aksara Jawa?

Ada juga yang sangat sakti, sehingga tanpa membaca bisa tahu isi artikel orang dan langsung berkomentar. Lebih sakti daripada ilmu skimming dan scanning yang saya pelajari waktu pelajaran bahasa Indonesia waktu SMA. Mereka ini begitu baca judul, langsung bisa tahu isi postingannya apa. Langsung komentar, padahal isinya menentang suatu produk, eh, malah dimintai tolong untuk membuatkan alat yang dipertentangkan. Cerdas!

Oh, iya. Manusia-manusia (entah deh yang bukan :-P ) ini juga pandai di bidang logika matematika. Cara penarikan kesimpulan yang fallacious bisa mereka pakai dengan sangat baik dan benar. Padahal, mereka belum sekalipun belajar tentang cacat logika itu. Hebat sekali pemberi wangsit yang bersemayam di kepala mereka ini.

Jadi, setelah dipikir kembali, orang Indonesia sudah cukup cerdas untuk menjadi komentator blog yang baik. Tak perlulah saya menjelaskan tentang RFC 1855 : Netiquettes Guidelines. Toh di kepala mereka sudah ada wangsit yang mungkin menjelaskan tentang RFC 1855 ini. Buat apa saya menjelaskannya ke orang yang cerdas? Untuk apa menjelaskan kepada orang yang sudah mengerti? Sama saja menyuruh genius-man membaca serial For Dummies. Pasti mereka tersinggung deh…



21 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://ardianto.blogsome.com/2008/08/07/cara-menjadi-komentator-yang-baik/trackback/

  1. Gravatar Image

    ayo lah, di mana lagi manusia bisa berekspresi dengan bebas dan lepas selain di dunia maya……

    Comment by Zulfikar Hakim — August 7, 2008 @ 10:49 pm

  2. Gravatar Image

    [Zulfikar Hakim]
    Bebas sih bebas, tapi mbok ya ngehargain orang lain toh ya…

    Comment by Empunya blog — August 7, 2008 @ 10:53 pm

  3. Gravatar Image

    betul! bebas sih bebas, dengan netiket tentunya..

    Comment by Mac — August 7, 2008 @ 11:33 pm

  4. Gravatar Image

    Duduk permasalahannya apa pak Ardi. Kalau bagi saya pribadi, komentar itu ya bebas saja pak. Sopan atau tidak sopan kan kemudian nanti orang lain yg menilai. Nah sebaiknya ciptakan dialog sehingga bisa menjadi diskusi dan menambah pemahaman, apalagi bisa mendapat solusi. Tentu saja dengan bahasa yang baik, jadi mungkin soal cara penyampaian saja ya pak.

    Comment by laporan — August 8, 2008 @ 1:06 am

  5. Gravatar Image

    Meskipun saya pribadi juga terkadang agak2 sebel sama komentar2 klise biasanya saya tetap menghormati semua komen2 yang masuk. Maklumlah komen yang agak berbobot selain agak memakan banyak waktu terkadang mungkin bidangnya tidak sesuai dengan minat kita. Atau terkadang kita lagi “down” dan kurang mood untuk berkomen, namun karena kita mengharapkan blog kita ramai dikunjungi maka kita “memaksakan diri” untuk berkomentar di blog lain (walaupun tentu sah2 saja….) Huehehehe……

    Comment by Yari NK — August 8, 2008 @ 11:10 am

  6. Gravatar Image

    mau komentar yang ga bener juga komputernya ga bakalan nonjok…

    Comment by kishandono — August 8, 2008 @ 11:35 am

  7. Gravatar Image

    lagi nyindir sapa nih ? nggak aku khan ? aku nggak kenal istilah kebon binatang :D

    Comment by Elys Welt — August 8, 2008 @ 12:59 pm

  8. Gravatar Image

    [mac]
    Betul, setujuh…!!!

    [laporan]
    Kalau komentar menyanggah pendapat dan sopan sih, saya masih memaklumi…
    Tapi kalau dateng-dateng bilang, “t*i anj**g” gitu siapa yang ngerasa enak?

    [Yari NK]
    Kalau komen klise saya masih bisa tahan pak. Tapi komentar dengan kata anj*ng, t*i, minta kirim e-mail bocoran ujian, rasanya susah banget ditoleransi…

    [kishandono]
    Ide bagus! Besok saya bikin komputer yang bisa nonjok kalau yang pake ngeluarin komentar yang gak bener :mrgreen:

    [Elys Welt]
    Nggak, mbak. Masa mbak ngerasa tersindir sih? Mbak kan orang baik… :D

    Comment by Empunya blog — August 8, 2008 @ 4:11 pm

  9. Gravatar Image

    pernah nonton tri mas getir…
    ada cara untuk memperhalus sindiran dan ejekan di sana….
    longok aj ..;)

    Comment by Wahyu Reza Prahara — August 8, 2008 @ 4:50 pm

  10. Gravatar Image

    wan, jeheling aku po ra????

    kancamu sg ganteg dewe neng jaman SD..

    sing gawe kowe arep gledak gr2 pas kelas 1 tak uncali tipe-x nganti tenggorokanmu bongko?????

    ha ha ha

    Comment by sang_majnun — August 8, 2008 @ 8:59 pm

  11. Gravatar Image

    [Wahyu Reza Prahara]
    Ah, yang di atas juga cara memperhalus sindiran kan? Atau malah lebih mengena?

    [sang_majnun]
    Halo Finan…

    Comment by Empunya blog — August 9, 2008 @ 7:33 pm

  12. Gravatar Image

    wah kalau jadi komentator mah gampang bangetz pakai Z..hehehe

    Comment by hidayat — August 10, 2008 @ 7:26 am

  13. Gravatar Image

    [hidayat]
    Etikanya kayaknya perlu diajari deh…

    Comment by Empunya blog — August 10, 2008 @ 9:06 am

  14. Gravatar Image

    Memberi komentar memang sulit, terutama kadang kita terlanjur sungkan karena blog kita telah ditengok, sehingga secara tak langsung merasa punya kewajiban membalas kunjungan. Padahal seringkali, isi tulisan belum tentu sama dengan kompetensi yang kita punya, jadi sulit memberi komentar yang pas.

    Banyak juga, yang komentar dan isi tulisan benar-benar sangat jauh, tapi justru disinilah uniknya….kalau kita bisa sabar membaca komentar yang aneh dan tetap membalas dengan santun, sebenarnya kita telah belajar mengendalikan emosi dan dapat berkomunikasi secara baik. Ini sangat perlu nantinya kalau sudah bekerja dan bergaul dengan berbagai orang yang sifatnya beraneka ragam.

    Comment by edratna — August 10, 2008 @ 11:46 am

  15. Gravatar Image

    Anjing!!! Kontoll!!

    contohnya kayak gitu ya? hehe.. :P

    Setuju sama Tante Edratna, walau menjijikkan, tapi komentar-komentar dari “para ahli ekskresi, defekasi, dan reproduksi ini bisa melatih kita untuk mengendalikan emosi, biar bisa tetap santun dan sabar dalam segala kondisi.
    Saya sendiri sampai sekarang masih belum bisa sabar, masih harus banyak berguru.

    Comment by guh — August 10, 2008 @ 9:21 pm

  16. Gravatar Image

    hm, kekuatan kata2. hebat yaa, meskipun cuma 2 kata tapi bisa membuat hati jadi nggak enak. sabarr pakk.. :D

    Comment by tya — August 11, 2008 @ 3:02 pm

  17. Gravatar Image

    Bebas terbatas, dengan baca komentar jadi bisa bayangin karakter pemberi komentar.

    Comment by ubadbmarko — August 11, 2008 @ 3:52 pm

  18. Gravatar Image

    [edratna]
    Iya, kayaknya saya harus belajar lebih sabar lagi… :)

    [guh]
    Ho oh, telak sekali contohnya… :mrgreen:
    Tampaknya mas guh sudah berpengalaman tuh, saya mau berguru deh… :)

    [tya]
    Kata nabi sih, “Lidah lebih tajam dari pedang”…

    [ubadbmarko]
    Betul… :)

    Comment by Empunya blog — August 12, 2008 @ 9:09 pm

  19. Gravatar Image

    Yah, justru komentator yang seperti itu lah yang membuat blogging more fun, gyahahahaha
    mengenai yang minta dikirim bocoran lewat email itu membuat saya prihatin sekaligus geli, konyol amat mereka itu, kekekeke

    Comment by Max — August 13, 2008 @ 9:21 am

  20. Gravatar Image

    [Max]
    Iya, sih, jadi more fun and entertaining…
    Kalau yang minta bocoran kayaknya nggak bisa ditolerir tuh…

    Comment by Empunya blog — August 13, 2008 @ 10:39 am

  21. Gravatar Image

    wew, kirain ada nama gua :mrgreen:

    Comment by master cherundolo — September 16, 2008 @ 2:48 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.