Nuansa itu selalu ada di stasiun setiap nada-nada khas stasiun dibunyikan. Ketika peluit petugas stasiun melambai-lambai kepada sang masinis. Dibalas lengkingan terompet lokomotif yang keras diiringi deru-deru mesin diesel yang bercampur dengan suara-suara gerbong pembangkit. Selalu ada rasa yang berkecamuk di hati setiap orang yang ada di tiap kursi gerbong. Berjuta rasa. Tak terbayang perasaan seorang ibu ketika melepas sang anak pergi jauh ke luar kota sana. Tak terlukiskan luapan rindu seorang anak kepada rumah, ayahanda, dan ibunda ketika rindu-rindu meluap.
Nada khas di pemberhentian yang mirip suara jam Big Ben itu seolah menghibur mereka. Di mana perpisahan tak lagi tertahankan, pertemuan serasa tak kunjung terlaksana. Seolah menghibur mereka yang berjibaku mengejar sang kuda besi yang terburu berlari. Menghibur dua orang terkasih yang terpisah, membuat tak sadar air mata tertitik, dan membuat rasa ingin jumpa semakin membara. Membuat kami tak peduli harta untuk jumpa.
Demi rindu-rindu itulah kami rela pergi pagi buta ke pemberhentian, untuk menemukan mutiara kami. Mutiara yang tertulis di selembar kertas kami. Mutiara tempat kami bawa rindu-rindu kami, tempat di mana rasa rindu itu tertitip. Tempat rajutan asa kami terbawa ke orang-orang terkasih kami. Mutiara yang kemarin pergi dari tangan kami, dan sungguh mungkin kami rela melupakan waktu dan segalanya, demi mutiara kami. Membuat kami tersadar akan kerasnya persaingan kehidupan.
Kami rela berdiri dan membuat waktu terlupa demi mutiara kami. Sepasang satuan waktu pun kami tak peduli, tetap tegak berdiri, dari pagi buta tak berbintang hingga mentari telah meninggi. Tak hanya kami yang ingin sang mutiara. Ribuan tangan lain pun terbawa harapan-harapan dan pelepas kerinduan. Sejenak, mulut kerang pembawa mutiara terbuka. Seperenam satuan waktu kemudian, mutiara kami hilang. Seolah harapan dan kerinduan kami lenyap ditelan bumi, makian pun tak tertahankan dan menggema hingga seluruh mata tertuju pada kami dan pertanyaan bertubi-tubi meluncur pada kami, "Mengapa tiket Mutiara Selatan telah habis hanya dalam waktu 10 menit sejak loket terbuka?"
Namun, kami belum menyerah. Satu rajutan asa masih ada di tangan kawan yang mencari mutiara di belahan lautan manusia yang lain. Kami hanya bisa berharap dan membebankan harapan pada sang kawan. Dengan perjuangan yang maha keras, maha berat, dan tak kenal letih, kami berhasil mendapat separuh dari enam belas mutiara. Tiga dari kami sampai rela menukarkan mutiaranya yang hilang dengan kursi-kursi raja. Sedangkan sisanya, terpaksa memanen mutiara kembali esok. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan mereka di esok hari itu. Hanya ucapan selamat berjuang yang aku mampu.
Satu tempat duduk di Mutiara Selatan telah menjadi milikku untuk sehari. Tak akan tersia-sia. Akan kunikmati nuansa-nuansa itu ketika keberangkatan nanti. Saat ribuan rasa bercampur dan teraduk dalam hati. Saat lambaian tangan terlihat dari jendela-jendela gerbong kereta dengan titikan air mata. Saat haru, sedih, dan gembira bersenyawa. Ketika kereta mulai menggerakkan roda dan berjalan perlahan. Diiringi nada-nada yang khas saat sang mutiara menggelinding, berkilau di sore hari dan bersiap menembus malam hingga pagi menjemput kami di pemberhentian bersama orang-orang terkasih kami. Tempat rindu terobati, tempat luapan rasa, dan tempat pelukan hangat.
8 Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://ardianto.blogsome.com/2008/08/31/mutiara-selatan-dan-romantisme-perjuangan/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
sumpah gw gak ngerti :p
Comment by Wahyu Reza Prahara — August 31, 2008 @ 10:23 am
Aku ada ide ni om…
Karena selama ini kan aku ga pernah berhasil naik kereta ekonomi ya..
Gimana kalo ntar pas ada liburan lagi aku ke bandung dulu..
Temenin aku naik kereta yaaaaaaaa…
Pulang ke Kudusnya naik kereta bareng - bareng…
Hehehehe….
Ya??Ya???
Comment by adinda — September 2, 2008 @ 11:40 am
Biar mudah dimengerti judulnya diganti wae dengan “antri tiket sepur mutiara selatan kanggo mudik” ya khan??
Comment by joker — September 4, 2008 @ 4:27 pm
Walah wan wan!!!
Suara iku….
Comment by hendy — September 5, 2008 @ 3:00 pm
walah wan wan, gaya nulismu kayak Iwan Abdurachman, Ebiet sama Iwan False.
Tinggal dijadiin lagu tuh….
Comment by Zulfikar — September 6, 2008 @ 9:32 pm
halo there..nge-link ya…blognya keren abis, rame dan lucu..
mesko aku ya wong jowo, tapi kesulitan juga baca judul blog ini..syungguh terlalu ya hiks..(sedih)
Comment by ernut — September 8, 2008 @ 5:29 am
“Mutiara Selatan dan Romantisme Perjuangan” ?
hahahaha
— seseorang yang ikut berburu mutiara
Comment by Jiwo — September 10, 2008 @ 7:12 pm
HAHAHAHAA
temen senasibbnya jiwo BGDD
kocakk BGDD postingan ini
kyk puisi
xp
Comment by bhello — September 28, 2008 @ 12:24 am