Saya sedang heran dengan pasal 34 undang-undang dasar negara aneh ini. Saya sedang berusaha memahami maknanya yang ambigu. Ganda makna dan makna satu dan yang lain saling bertentangan. Bagi yang belum tahu, saya beri tahu saja bahwa bunyi pasal tersebut adalah "Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara"
Makna seharusnya Anda sudah tahu. Tapi ada kata yang membuat saya merenung yaitu "dipelihara". Bentuk pasif dari kata memelihara. Sepanjang yang saya tahu memelihara artinya merawat agar keadaannya diusahakan tetap seperti semula. Misalkan kita memelihara ikan, ya ikan itu awalnya hidup dan kita usahakan tetap hidup. Selama masih dimungkinkan Tuhan tentu saja.
Jadi fakir miskin dan anak-anak terlantar itu diusahakan tetap fakir, tetap miskin, dan tetap terlantar. Interpretasi saya terhadap makna kalimat itu yang kedua. Atau malah inikah makna sebenarnya dari pasal ini? Setiap kali saya jalan-jalan sekadar melihat-lihat suasana Bandung, saya selalu melihat ada anak kecil yang mengamen, ibu beserta bayinya yang harus rela tidur di emperan toko dan trotoar, atau para pemuda yang hanya mampu menyanyi dengan gitar dan menodongkan gelas bekas air mineral ke penumpang angkot.
Kadang gelas yang mereka todongkan bermerek sebuah restoran fastfood terkenal dengan tulisan huruf M yang ditulis besar-besar. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka tak pernah menikmati minuman dari gelas itu karena minuman itu seharga jatah makan dua hari. Ironis, konyol, tapi tak lucu. Sekolah pun tak pernah mereka nikmati, bahkan inginkan pun tidak. Bertahan hidup untuk hari ini saja mungkin sudah cukup. Yah, mereka terpelihara. Terpelihara tetap seperti itu, sejak negeri ini ada hingga mungkin negeri ini tamat.
Sementara itu di sebuah kampus yang tampak megah, dengan arsitektur klasik membangun seluruh bagian-bagiannya, tempat mahasiswa dari seluruh penjuru negeri menuntut ilmunya. Saya mendengar percakapan yang membuat hati saya kecut. Sebuah pernyataan yang menyakitkan, "BMW gue cuma dua, yang satu tahun 1983 sama yang satu tahun 1992. Masih mending punya elo lah." Miris. "Rumah gue ‘kan nggak ada club house-nya, nggak kayak rumah elo".
Saya tertampar, mengingat rumah kecil tipe 21 milik Ayah dan Ibu tiga belas tahun yang lalu. Ada di perumahan sederhana pinggiran kota yang bahkan mahasiswa-mahasiswa di sini tak tahu letak geografisnya. Hanya berdinding batako - bata yang terbuat dari semen - dan tanpa lantai keramik yang dicicil selama lima belas tahun. Hanya ada tiga ruangan, ruang tamu yang menyatu dengan kamar tidur. Dapur yang hanya cukup untuk berdiri satu orang dan sebuah kamar mandi kecil.
Rumah itu dilebarkan dengan sangat perlahan-lahan. Saya masih ingat ketika rumah itu dibagian depan masih berdinding batako dan dibagian belakang hanya berdinding bata. Hanya bagian dapur yang dilapisi keramik sisa yang diberi oleh Budhe. Masih beratap asbes di bagian depan dan genteng tanah liat di bagian belakang. Setiap musim hujan, kasur di kamar tidur yang biasanya dihuni oleh empat orang keluarga kami dipindah ke ruang tamu karena genteng tanah liat itu tak mampu menahan air hujan. Ketampu kalau kami bilang. Ruang tamu adalah ruang yang beratap asbes dan mampu menahan air hujan. Perlu belasan tahun untuk menjadikan rumah itu seperti yang sekarang. Saya tak habis pikir mengapa anak-anak orang kaya ini mengatakan "cuma" di depan harta yang mereka miliki itu.
Ibu saya selalu bilang, "bersyukurlah dengan keadaan sekarang, masih ada yang bernasib lebih buruk dari kita" dan memang banyak orang yang nasibnya jauh lebih buruk. Fakir miskin dan anak terlantar yang hampir tiap hari saya temui di jalanan itu mungkin hanya sedikit di antaranya. Saya masih berfikir bagaimana cara membuat mereka tak lagi di jalanan. Memberi uang sekenanya memang jawaban sementara, tapi seperti bumerang, mereka menjadi malas bekerja toh uang akan datang. Sama saja dengan memelihara mereka tetap di jalanan.
Mereka itu amanah buat kita, kata Andi di blognya. Saya sedang berpikir bagaimana caranya kita menjalankan amanah itu. Atau kita akan menjadi negara kita yang memelihara fakir miskin dan anak terlantar dan bukan mengentaskannya? Ada yang punya ide?
**masih nggak simpatik dengan pernyataan, "BMW gue cuma dua, yang satu tahun 1983 sama yang satu tahun 1992" yang saya dengar dengan jelas dengan telinga saya ini.**
11 Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://ardianto.blogsome.com/2008/09/20/pasal-tiga-empat/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
DIpelihara supaya tetap miskin? Hahaha, logis2. Buktinya pemerintah membuat peraturan sesusah2nya biar rakyatnta miskin.
Iya juga, banyak orang yang tidak bersyukur apa yg mereka punya. Apalagi jika sedari lahir sudah hidup enak
Comment by Adriano Minami — September 21, 2008 @ 2:37 pm
Lha, makanya saya bilang kalo negara kita telah berhasil Mas Bro
hehehehehe
Comment by Nugraha Fadhil — September 21, 2008 @ 3:46 pm
[Adriano Minami]
Hehehe…
Iya kurang lebih begitu sih, pemikiran saya…
[Nugraha Fadhil]
Yah sudah keduluan di situ idenya…
Comment by Empunya blog — September 21, 2008 @ 7:22 pm
ahaha. kalau guruku dulu malah bilang gini:
“dipelihara artinya mengusahakan menjadi banyak. seperti memelihara ayam.”
Jadi nantinya fakir miskin di negeri ini beranak pinak, bertambah banyak. pathetic.
Comment by tya — September 21, 2008 @ 9:41 pm
Positive thinking aja, siapa tau mereka itu lagi ga bermaksud sombong kan, makanya bilang “cuma”
Comment by master cherundolo — September 22, 2008 @ 2:31 pm
aduh aduh, itu kan hanya perbedaan rasa bahasa antara orang dulu dan orang sekarang. gw kira memelihara di sini buat orang dulu ya diayomi. ga tau juga sih
tapi memang harus diamandemen tuh.
tapi mau gimana lagi, selama pemerintah digaji dari pajak yang haram (misalnya dari miras atau prostitusi)……tah, susah juga diharapkan akan lebih bener……
Comment by Zulfikar Hakim — September 23, 2008 @ 12:17 am
nyepam
Heh, mana biodatamu untuk balajoca.org
Sekalian fotonya yak!!
Comment by chiell — September 23, 2008 @ 1:35 am
Bukankah komentar seperti itu yang bikin kita kuat? Bukankah BMW tadi punya bokapnya, bukan punya dia? Kita lihat deh, siapa tahu nanti Ardianto lebih hebat dari yang ngomong tadi
Menyedihkan memang, kalau mahasiswa kok ngomongnya kayak anak kecil…kalaupun mereka itu nanti bisa bekerja diperusahaan milik bapaknya, mengelola perusahaan juga tak mudah. Lehman Brothers, yang telah berumur lebih 150 tahun bisa tumbang….juga Merryl Lynch dll.
Comment by edratna — September 23, 2008 @ 4:31 pm
Selamat idul fitri bagi yg merayakan idul fitri. Selamat berlibur bagi yg berlibur. Mohon maaf lahir dan batin.
Comment by laporan — September 25, 2008 @ 10:32 am
[tya]
Iya, yang saya tangkap juga begitu, heu…
[master cherundolo]
Terserah, saya muak sama mereka…
[Zulfikar Hakim]
Ehm…
Emang ada legal prostitution di Indonesia?
[chiell]
Kapan-kapan yah
[edratna]
Benar, komentar macam itu yang bikin kita kuat. Heu, mudah-mudahan saja seperti itu, Bu…
[laporan]
Selamat Idul Fitri juga, maafkan saya bila ada salah, minal aidzin wal waizin… Mohon maaf lahir batin…
Comment by Empunya blog — September 25, 2008 @ 7:48 pm
oooooooooo
Comment by p4ladin — August 15, 2009 @ 10:37 pm