Terima kasih, hanya dua kata yang ingin aku ucapkan di hari ini. Hari istimewa bagi diriku, hari tempat merenung, berharap, dan berdoa. Meski bukan harus hari ini kulakukan, tapi rasanya hari inilah momentum yang paling tepat untuk mengucapkannya. Terima kasih, rangkaian kata yang selalu diucapkan setelah menerima sesuatu dari Tuhan atau orang lain.
Terima kasih untuk Tuhan, Alhamdulillah, saya masih diberi kepercayaan ada di bumi untuk dua puluh tahun ini. Masih Engkau beri hamba-Mu ini kesempatan untuk bernafas. Terima kasih wahai yang Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Memberi. Masih Engkau beri kesempatan mencicipi dunia yang asam, manis, dan pahit ini. Tempat yang laksana hidangan dengan sejuta rasa.
Terima kasih untuk Ibu, Ayah, dan Adikku tersayang. Terima kasihku yang sedalam-dalamnya buat Ibu yang telah melahirkanku tepat dua puluh tahun yang lalu di hari ini. Terima kasih untuk Ayah tercinta, Ayah juara satu di muka bumi ini. Terima kasih untuk Adikku tersayang yang selalu bersemangat dan keras kepala.
Terima kasih untuk teman-teman yang telah memberi sedikit ruangan di pikirannya untuk mengingat hari ini. Terima kasih buat Widhi dan Lilin yang sudah memberi ucapan selamat dini hari tadi. Terima kasih untuk doa kalian. Meski akhirnya aku ketiduran lagi dan tak makan sahur.
Terima kasih juga buat teman-teman yang sudah memberi ucapan selamat via Friendster. Terima kasih berat buat Wilya, Ika Kurnia, Martin, Ayu’, Aryan. Apapun ucapan kalian, terima kasih. Terima kasihku dari lubuk, atau mungkin lebih dalam, dari palung hati. Terimalah ucapan terima kasih ini.
Dan buat teman-teman lain yang sudah ada di ruang hatiku ini, terima kasih buat semuanya.
——
Sekalian mengucapkan, Selamat Idul Fitri, Taqaballahu Mina Wa Minkum, Minal Aidzin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin. Saya mau pulang kampung ke tempat yang damai dari keramaian akses internet dan mohon maaf bila komentar tak terbalas.