<
Fotokopi Buku dan Moralnya
September 17, 2008

Melihat tumpukan buku-buku seperti gambar di bawah ini, teronggok di kamar saya yang berukuran 2x4 meter persegi. Khas mahasiswa Indonesia, hitam putih, tebal, hard cover, dan dengan pembatas pita di dalamnya. Sangat biasa dalam kehidupan berkampus di bumi mantan kerajaan Majapahit ini. Dengan ekonomi yang pas-pasan hanya fotokopilah satu-satunya cara mendapat harga sepersekian dari harga semula.

Yang jadi masalah, sebenarnya dengan fotokopi buku ini kita sudah menghilangkan royalti sang penulis yang telah capek-capek membuat buku. Charles Alexander dan Matthew Sadiku mungkin memaki-maki kalau tahu maha karya mereka yang berupa Fundamental of Electric Circuits diperlakukan seperti itu. Dan Gooklin mungkin dengan lucunya bilang "Goodbye World" seperti dicontohkan dalam program C pertama yang dikemukakan dalam C for dummies.

Undang-undang juga jelas tak mempan diterapkan di negeri yang petanya ditaruh di kolam tengah-tengah kampus saya itu. Tenggelam tanpa ada yang menaati. Undang-undang hak kekayaan intelektual? Who cares? No Body! Aparatur penegak hukum toh juga pekok dan kemplu. Mana ada penjual CD software bajakan diberangus? Penjual fotokopian buku dicekal? Nggak ada itu, nggak ada! Sejauh saya mengamati, aturan yang ditaati di negeri ini kok cuma lampu merah dan lampu hijau di perempatan jalan. Sisanya ada untuk dilanggar. :D

Sebenarnya bisa saja sih tanpa fotokopi. Buku-buku ini toh ada di toilet raksasa perpustakaan tercinta. Tapi problemnya tentu saja keterbatasan buku. Buku Fundamental of Electric Circuits misalnya hanya ada belasan biji di perpustakaan program studi dan tidak ada di perpustakaan pusat. Discrete Mathematics and Its Applications lebih parah, buku karya Kenneth H. Rosen ini hanya ada satu di perpustakaan dengan diperebutkan oleh ratusan mahasiswa seangkatan ditambah yang mengulang. Buku Advance Engineering Mathematics hanya ada 3 buah di perpustakaan pusat. Ada juga buku yang nggak ada di perpustakaan seperti Digital Design-nya Frank Vahid dan C for Dummies-nya Dan Gooklin.

Beli yang asli jelas bukan jawaban. International Edition yang diberikan oleh John Wiley & Sons atau McGraw-Hill juga dibandrol dengan harga yang tak murah. Rentang harganya masih diantara dua ratus ribu sampai lima ratus ribu. Sedangkan kalau fotokopi rentang harganya bisa empat puluh ribu sampai seratus dua puluh ribu. Seperlima harga semula, menggiurkan bukan? Hak cipta? Apa itu? :p Toko buku yang bisa kita sambangi untuk membeli buku yang asli pun sulit dicari. Sejauh yang saya tahu, di Bandung toko yang menjual buku-buku seperti itu bisa dihitung dengan jari satu tangan. Mencari buku bekas di pasar macam Palasari tentu sulit dan belum tentu ketemu. Apalagi buku terbitan 2007 semacam buku Digital Design si Vahid.

Adakah yang punya solusi untuk buku-buku ini? Bisakah mahasiswa-mahasiswa Indonesia tidak lagi dicap sebagai tukang bajak? Sampai saat ini saya masih belum menemukan solusi. Lagipula saya ragu perpustakaan di kampus negeri yang miskin ini mampu menyediakan buku dengan jumlah yang memadai untuk ratusan mahasiswa. Must we always violent the law? *nggak tahu grammar-nya bener apa salah :P *



    Next posts »»