Beberapa bulan terakhir ini, saya kok sering sekali mendengar cara-cara berargumen dan menarik kesimpulan, yang aneh, yang payah, dan yang bikin saya tertawa. Sebenarnya kalau buat hiburan sih tidak apa-apa. Masalahnya banyak yang menggunakan cara-cara seperti ini untuk meyakinkan orang-orang mengenai teori-teori yang belum tentu kebenarannya. Yang paling populer tentu saja adalah teori konspirasi yang melibatkan pihak-pihak yang kita benci tentu saja atau menjatuhkan pihak lain yang menjadi saingan bisnisnya. Bahkan ada yang menggunakannya sebagai dalil menghalalkan. Ini ada beberapa
Kesalahan penarikan kesimpulan dari sebuah kalimat implikasi
Kalimat Implikasi adalah kalimat yang berbentuk "Jika P maka Q". Nah, kesalahan yang sering dilakukan adalah seperti ini:
A : Jika Hari ini hujan maka jalanan basah
B : Jalanan Basah
Kesimpulan : Jadi hari ini hujan
Seolah tak ada yang aneh bukan? Tapi ini adalah cara penarikan kesimpulan yang salah. Jalanan basah belum tentu hujan bukan? Bisa saja ada pemadam kebakaran sengaja menyirami jalanan agar tak berdebu. Ada yang serupa, hanya sedikit tidak sama tetapi ini cara penarikan kesimpulan yang benar
A : Jika Hari ini hujan maka jalanan basah
B : Jalanan tidak Basah
Kesimpulan : Jadi hari ini tidak hujan
Kalau jalanan kering tentu tidak mungkin hujan bukan? Bisa dikatakan seperti itu karena suatu pernayataan implikasi "Jika P maka Q" ekuivalen dengan kontraposisinya "Jika tidak Q maka tidak P" tetapi tidak ekuivalen dengan inversnya "Jika tidak P maka Q". Penerapan yang sakti? Iklan Bintangin vs Tolak Angin. Bintangin mengusung jargon, "Semua orang boleh minum"
A : Orang pintar minum Tolak Angin
B : Si X tidak pintar
Kesimpulan : Jadi Si X tidak boleh minum Tolak Angin
Sungguh, yang ini bikin saya terpingkal-pingkal dibuat. Udah mengejek produk orang lain, salah lagi.
(more…)