Ardianto’s Junkyard

June 19, 2008

Selamat Tinggal STEI ITB

Setelah setahun lamanya, saya menjalani kuliah Tahap Persiapan Bersama (TPB) di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung (STEI-ITB). Dengan berat hati saya terpaksa meninggalkannya. Tak akan ada lagi mata kuliah kalkulus, fisika, kimia, pengetahuan lingkungan, konsep teknologi, bahasa Inggris, tata tulis karya ilmiah, olahraga, pengantar rangkaian elektrik, dan dasar pemrograman. Saya harus mengucapkan selamat tinggal pada semua itu.

Terima kasih juga buat teman-teman yang belajar di kelas yang sama dengan saya selama ini. Ujian bersama, mengerjakan tugas bersama, mengopipes mengerjakan laporan praktikum bersama-sama, dan tak lupa main bersama. Terkenang saya mendapat nilai terburuk dalam sejarah sebesar 35 pada ujian tengah semester fisika dasar IIA. Terkenang pula dengan susah payah saya akhirnya mendapat nilai A pada mata kuliah Kalkulus II dan Olahraga Bulutangkis. Dengan susah payah pula memperbaiki nilai Pengantar Rangkaian Elektrik dari entah D atau E menjadi B.

Semuanya akan menjadi kenangan manis yang takkan terlupa. Namun, dengan berat hati saya harus mengucap, "Selamat Tinggal STEI-ITB". Keputusan yang saya ambil sudah bulat. Tak akan dan tak mungkin bisa saya ubah. Terima kasih semuanya. Ya, terima kasih. …Baca Selengkapnya

May 23, 2008

Ujian, Contekan, dan Kebusukan

Kemarin, sewaktu saya bersama Andi Hendra Paluseri dan Zulfikar untuk menyelesaikan tugas Tata Tulis Karya Ilmiah yang deadline-nya hari ini (yah, ketahuan saya pemburu deadline :mrgreen: ). Ketika menjilid tugas itu di fotokopian belakang kampus ITB, saya melihat kertas 5 cm x 6 cm di meja tempat fotokopian itu. Isinya adalah buku teks yang difotokopi diperkecil. Ini dia gambarnya

Contekan 1 

Contekan di atas printer …Baca Selengkapnya

April 16, 2008

APRS dan eQSO

Kali ini, masih ada hubungannya sama radio amatir. Ketika zaman ngebrik telah berlalu, ketika kopi darat sudah beralih dari tradisi para pecinta radio amatir ke para hacker blogger, dan ketika televisi tak lagi terganggu brik-brikan. Apa kabar dirimu kini, wahai amateur radio? Memang sih, sekarang alat komunikasi ini, sudah jauh berkurang kepopulerannya. Ditambah lagi, handphone yang semakin murah, dan perang tarif operator yang menggila. Ditambah lagi, untuk mengerti peralatan radio amatir, diperlukan banyak belajar lagi. Sesuai tradisi, orang Indonesia malas belajar. Mumet.

Meski demikian, ada beberapa pengembangan radio amatir, yang cukup menarik. Yaitu APRS dan eQSO. Apa pula itu? Konspirasi besar untuk menguasai dunia dengan radio amatirkah? Nggak lah, prasangka sama praduga dikau itu keterlaluan! Wong, mereka cuma mengembangkan hobi, kok dituduh yang enggak-enggak. Sedih saya lihat Indonesia sekarang, dikit-dikit prasangka. Oke, APRS itu Automatic Packet Reporting System. Kalau eQSO itu semacam VoIP, tahu VoIP nggak? itu, yang buat telpon-telponan lewat internet. Biasanya makai Skype. Yap, semacam VoIP tapi buat radio amatir.

Oke, satu-satu njelasinnya. Yang pertama, APRS dulu. APRS ini dikembangkan oleh simbah Bob Bruninga di akhir 80-an. APRS ini merupakan sistem berbasis radio amatir yang biasa digunakan untuk komunikasi digital secara ‘real time’. Kalau ndak mudheng, APRS ini cikal bakal GPS. Apa? Mau dituduh konspirasi untuk mencari orang yang jadi sasaran untuk dimusnahkan karena menghalangi menguasai dunia? Nggak lah yaw…! Buanglah Prasangka kau itu! Kerjaan kok cuma menghujat aja! Kalau mau menghujat, sini saya ajari tekniknya! …Baca Selengkapnya

April 4, 2008

Apache

Habis bicara radio, kita bicara tentang Apache. Ada hubungannya sama suku indian kah? Atau malah suku Aborigin? Kan namanya mirip-mirip dengan bahasa yang mereka pakai :mrgreen: . Yang jelas bukan bahasa Jawa. Menawi punika bahasa Jawi, kula nggih saget mangertos Mas. Tenang Apache di sini nggak ada hubungannya sama SARIP (Suku, Agama, Ras, dan Indeks Prestasi), apalagi sama konspirasi besar untuk menguasai dunia. Bukan! …Baca Selengkapnya

Radio Wireless

Teman-teman semua tahu radio amatir? Pernah dengar? HT (Handy Talkie, bukan Hizbut Tahrir!)? Kalau nggak kenal, mungkin pernah dengar istilah nge-brik? Dulu di zaman pertengahan 90-an, setiap kali televisi mengalami gangguan, pasti ayah saya bilang, "Ada yang nge-brik nih" terus saya yang masih SD itu bilang, "frekuensinya terganggu ya, Pak?". Hoho, betapa pintarnya anakmu ini, Pak. :mrgreen: dan beliau pun menjawab "iya". Keren bukan? Nah nge-brik itu apa? Konon beliau bilang berkomunikasi dua arah dengan radio amatir. Banyak gunanya loh, Tim SAR, polisi, sampai para pendaki gunung memakai alat ini untuk berkomunikasi. Banyak juga yang nyawanya terselamatkan oleh alat ini. Hebat kan? …Baca Selengkapnya

«« Previous Page  

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham