Ketika saya bertanya kepada seorang kawan, kenapa masuk jurusan X universitas Y, ia selalu menjawab prospek kerjanya cerah dan gajinya besar. Ketika saya bertanya kembali apakah ia sungguh-sungguh ingin mendalami ilmu di jurusan X universitas Y, ia menjawab, tidak perlu mendalami ilmu dalam-dalam, yang penting setelah lulus bisa bekerja di perusahaan besar dan bergaji tinggi. Jadi saya bertanya lagi, "Di manakah ketulusan untuk mencari ilmu agar ilmu tersebut bermanfaat bagi khalayak? Apakah ilmu kita hanya dinilai dengan rupiah?". Bungkam.
Seorang lagi membuat saya kembali bertanya. Ketika saya tanya apa motifnya menjadi panitia di pagelaran besar di kampus. Konon dia menjawab untuk mendapat banyak teman katanya. Lalu saya kembali bertanya, mengapa begitu ingin mendapat banyak teman? Untuk mengembangkan koneksi agar nanti mudah dapat pekerjaan. Tak berhenti sampai situ, saya bertanya, "Jadi berteman itu dinilai dengan uang yah? Di manakah ketulusan berteman layaknya ketika belasan atau puluhan tahun lalu kita berkenalan dengan tetangga atau kawan sekelas kita tanpa memikirkan uang?". Bungkam.
Ketika memasuki sebuah organisasi, saya pernah bertanya, "Untuk apa ikut oraganisasi?". Jawaban klise, untuk memperbaiki Curriculum Vitae. Lalu kenapa bila CV-mu bagus? Akan mudah mendapat pekerjaan katanya. Konyolnya di formulir masuk organisasi, di bagian motivasi memasuki organisasi, selalu saja ia mencari pembenaran lain. Tak pernah sekalipun saya lihat dia menuliskan seperti yang ia katakan ke saya. Munafik? Entah. Tapi di manakah keinginan untuk memajukan suatu organisasi, tanpa memikirkan uang di masa depan? Di mana? (more…)